Ambon, Kota yang Terbelah Diam-diam: Jejak Segregasi Agama di Tengah Perdamaian

oleh -628 views

Porostimur.com, Ambon – Dua dekade telah berlalu sejak Maluku dilanda konflik horisontal yang menyayat hati, mengoyak tatanan sosial, dan meninggalkan luka kolektif yang dalam. Konflik bernuansa agama yang pecah pada 19 Januari 1999 itu menghancurkan ribuan nyawa, memisahkan komunitas, dan membelah kota Ambon secara kasat mata: antara Muslim dan Kristen.

Kini, Gong Perdamaian Dunia berdiri megah di pusat kota, menjadi simbol keberhasilan rekonsiliasi. Namun, di balik harmoni yang terlihat, sekat-sekat tak kasatmata masih menghantui kehidupan masyarakat — segregasi permukiman berbasis agama yang tak kunjung sirna.

Peta Sosial yang Masih Terbelah

Kota Ambon hari ini bisa dipetakan secara informal berdasarkan identitas religius. Kawasan seperti Batu Merah, Jalan Baru, Soabali dan Waihaong dikenal sebagai permukiman mayoritas Muslim. Sementara itu, daerah seperti Karang Panjang, Batu Meja, Kudamati, hingga Benteng identik dengan komunitas Kristen.

Baca Juga  Diduga Cemari Lingkungan, LPP Tipikor Malut Akan Laporkan PT ANI ke Kejagung

Anak-anak tumbuh besar di lingkungan yang homogen secara agama, sekolah di lembaga yang dikelola oleh institusi keagamaan, bermain, dan bersosialisasi hanya dengan mereka yang “seiman”.

Menurut Dr. Yustinus Leksana, sosiolog dari Universitas Pattimura, “Yang terjadi di Ambon adalah segregasi sosial pasca-konflik yang tidak dirancang negara, tapi tumbuh dari rasa trauma kolektif dan kebutuhan akan rasa aman.”

No More Posts Available.

No more pages to load.