Asap tidak berhenti di batas Kalimantan Tengah karena papan nama provinsi sudah berganti.
Angin tidak berhenti di Kalimantan Barat karena di depannya ada perbatasan Indonesia-Malaysia.
Dan polusi tidak akan berkata, “Maaf, saya hanya bertugas sampai sini.”
Ia terus bergerak.
Seperti angin.
Tanpa KTP.
Tanpa paspor.
Tanpa mengenal siapa yang dulu menertawakan kalimat itu.
Tetapi ada satu hal yang lebih menarik dari sekadar asap yang menyeberang perbatasan.
Sebab yang menyeberang bukan hanya asap, yang ikut menyeberang adalah ketidakmampuan kita mengurusi persoalan lingkungan secara terpisah-pisah.
Kalimantan terbakar, Sarawak menghirup asapnya. Dan kali ini persoalannya tidak berhenti sebagai kabar tentang titik api di sebuah wilayah yang jauh dari Jakarta. Ia berubah menjadi persoalan sekolah, kesehatan, lalu lintas, bahkan hubungan antarnegara.
Pada pertengahan Agustus, kualitas udara di Serian dan Tebedu, Sarawak, mencapai kategori sangat tidak sehat. Menyebabkan atusan sekolah kemudian ditutup. Pada 20–21 Agustus, penutupan bahkan meluas menjadi 591 sekolah di sepuluh distrik Sarawak, dengan hampir 200 ribu siswa terdampak.
Coba bayangkan.
Anak-anak Malaysia sedang belajar tentang dunia di dalam kelas, sementara asap dari Kalimantan datang mengajari mereka satu pelajaran yang barangkali tidak tercantum dalam buku sekolah:









