Arafah: Saat Manusia Mengenali Dirinya dan Bersimpuh di Hadapan Tuhan

oleh -22 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada tempat-tempat yang tidak sekadar menjadi titik geografis, melainkan berubah menjadi ruang batin. Padang Arafah adalah salah satunya. Hamparan tanah itu tidak hanya menyimpan sejarah ibadah haji, tetapi juga menyimpan pelajaran paling purba tentang manusia: tentang siapa dirinya, dari mana ia datang, dan kepada siapa akhirnya ia akan kembali.

Di sanalah jutaan manusia berkumpul tanpa gelar, tanpa kebesaran, tanpa sekat duniawi. Raja atau Presiden dan rakyat, pejabat dan buruh, ulama dan orang biasa, semua melebur dalam dua helai kain ihram putih. Tidak ada simbol kekuasaan yang tersisa. Tidak ada kemewahan yang bisa dibanggakan. Sedang yang ada hanyalah manusia dalam keadaan paling telanjang secara spiritual—membawa dosa, harapan, air mata, dan doa-doa yang diam-diam dipikul sepanjang hidupnya.

Baca Juga  Seleksi 18 Jabatan Eselon II Dibuka, Bupati Malra: Jangan Pakai Tim Sukses

Arafah berasal dari kata ‘arafa—mengetahui, mengenal, memahami. Maka Arafah bukan sekadar nama tempat, melainkan perjalanan makrifat: mengenali diri sendiri agar dapat mengenali Tuhan. Sebab manusia sering terlalu sibuk mengenal dunia, tetapi lupa mengenal dirinya. Ia hafal wajah orang lain, tetapi asing terhadap hatinya sendiri. Ia tahu harga banyak hal, tetapi tidak memahami nilai hidupnya.

Di Padang Arafah, manusia dipaksa berhenti dari seluruh hiruk-pikuk dunia.
Tidak ada transaksi, tidak ada perlombaan status sosial, tidak ada tepuk tangan publik—yang tersisa hanyalah dialog sunyi antara seorang hamba dan Tuhannya. Di situlah ego mulai runtuh.

Kesombongan yang selama ini dipelihara perlahan mencair. Manusia sadar bahwa dirinya hanyalah makhluk kecil yang rapuh, yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada kasih sayang Allah Subhanahu wa ta’ala.

No More Posts Available.

No more pages to load.