Senada dengan itu, mantan Menteri Pertahanan Benny Gantz juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Ia menilai kesepakatan tersebut sebagai kemunduran strategis yang berpotensi menyeret Israel ke dalam konflik berkepanjangan di berbagai bidang.
“Kesepakatan yang muncul dengan Iran tampaknya merupakan kegagalan strategis,” kata Gantz.
Ia memperingatkan bahwa pengaturan tertentu dalam kesepakatan bisa membatasi operasi militer Israel, terutama di Lebanon, serta membahayakan keamanan wilayah utara.
Penolakan Keras dari Kabinet Israel
Penolakan juga datang dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir yang menegaskan bahwa Israel tidak terikat dengan kesepakatan tersebut.
“Israel tidak tunduk kepada Amerika Serikat, dan kami adalah negara yang merdeka dan berdaulat,” tulisnya.
Ben-Gvir juga menolak kemungkinan penarikan pasukan Israel dari wilayah konflik dan kembali menyerukan pembubaran kelompok Hizbullah.
Sementara itu, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyebut kesepakatan tersebut sebagai sesuatu yang “buruk bagi Israel dan bagi seluruh dunia bebas”.
Ia menegaskan bahwa Israel harus tetap melanjutkan upaya untuk melemahkan Iran secara independen, termasuk mencegah pengembangan kemampuan nuklir Teheran.
Kritik Media dan Retaknya Hubungan dengan AS
Gelombang kritik juga datang dari kalangan media. Presenter Channel 14, Yinon Magal, menilai Presiden AS Donald Trump telah keluar dari negosiasi dalam posisi lemah.










