Oleh: Muhammad Joni, Dewan Pakar MN KAHMI
Konstitusi tidak hidup di lembaran kertas. Tapi bernapas di dada orang-orang berani.
Catat! di antara mereka yang berani itu, nama Lafran Pane berdiri tegak—sunyi, jernih, tapi menyala.
Sejarah kerap menuliskan para pendiri bangsa dengan tinta seremonial. Lafran Pane tidak cocok ditulis begitu. Pak Lafran bukan jenis tokoh yang lahir dari mimbar kekuasaan.
Beliau tumbuh dari luka, dari tikungan hidup, dari keputusan-keputusan sunyi yang menuntut nyali.
Dia yatim sejak belia. Diasuh nenek di Sipirok. Ditarik ke Medan oleh kakak. Beranjak ke Jakarta. Hidup di kerasnya jalanan. Masuk klub motor Senen. Pernah menjadi petinju. Hidupnya zigzag, keras, nyaris brutal. Namun justru di sanalah nyali ditempa semangkin menyala.
Nyali itulah yang suatu hari berdiri di kaki Gunung Sibualbuali, sontak membela rakyat kecil—pemotong sapi—yang diperas pajak “darah” oleh penguasa militer tentara Jepang. Lafran tidak punya senjata. Dia hanya punya kata dan keberanian. Duhmak, dia ditangkap, dipukuli, diancam dieksekusi dengan pedang. Dia selamat, dengan akal bersiasat.
Sejak itu, satu hal menetap padanya: keberpihakan pada rakyat bukan pilihan, melainkan identitas Lafran Pane. Bagaimana kita?








