Belajar dari Nyali Lafran Pane: Intelektual Konstitusi yang Menjaga Nyala Republik

oleh -631 views

Dia akan gusar melihat demokrasi prosedural tanpa etika. Dia akan mengkritik hukum yang menjauh dari rakyat, yang santun kekuasaan atas. Dia akan menyebut satu per satu: permukiman kumuh, perumahan yang tak layak huni, layanan kesehatan yang terkomersialisasi/ industrialisasi, pendidikan yang makin elitis-mahal, HAM yang kerap dijadikan jargon kosong.

Maka dan maka, seperti dulu, dia tidak akan berteriak. Namun hanya akan tegas. Karena bagi Lafran Pane, keberanian bukan soal volume suara. Keberanian adalah kesetiaan pada prinsip, bahkan ketika prinsip itu membuatmu sendirian.

Pemikiran Lafran Pane sejajar dengan Jimly Asshiddiqie ketika menyebut Pancasila sebagai identitas konstitusi. Sejalan dengan tokoh muda Pan Mohammad Faiz tentang fitur dasar UUD 1945. Sebangun dengan Rosenfeld, Jacobsohn, hingga Tushnet tentang constitutional patriotism.

Baca Juga  Musda Golkar Ambon Ditunda, Ketua Panitia Sutan Marsida Mundur

Bedanya satu: Prof. Drs. Lafran Pane lebih dulu.
Dia tidak menulis buku tebal. Tapi, via kawah organisasi kader HMI, Lafran Pane menanamkan nyali.
Dia tidak mengejar akumulasi sitasi. Dia tulus bernyali menjaga Republik.

Dan mungkin itulah sebabnya pidato guru besarnya belum ramai dikutip dalam buku teks hukum tata negara. Karena dia terlalu jujur. Terlalu lurus. Terlalu berani untuk zamannya—dan bahkan untuk zaman ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.