Berakhir di Tangan KPK, Ini 5 Dinasti Politik Paling Populer di Indonesia

oleh -413 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Ditangkapnya sosok Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin, yang juga mantan Bupati Probolinggo kembali mencuatkan isu politik dinasti dalam pemerintahan di Indonesia. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah dinasti politik yang berkuasa di sejumlah daerah di Indonesia berakhir dengan OTT KPK, dan menjadi populer di masyarakat Indonesia.  

Dilansir dari akurat.co berikut lima dinasti politik paling populer di Indonesia. 

1. Dinasti Atut 

Dinasti Atut dimulai ketika Ratu Atut Chosiyah berhasil menjadi Wakil Gubernur Banten ke-1 pada tahun 2002 hingga 2005 silam. Baru kemudian pada Pilkada 2004, ia berhasil menjadi Gubernur Banten periode tahun 2005 hingga tahun 2014 silam. Selain Atut, dinasti Banten juga dibentuk oleh anak Atut, Andika Hazrumy yang merupakan anggota DPD Banten 2009-2014 dan Wakil Gubernur Provinsi Banten 2017-2022. Lalu, istri Andika, Ade Rossi Chaerunnisa merupakan anggota DPRD Kota Serang 2009-2014. Kemudian, saudara Atut, Ratu Tatu Chasanah merupakan Wakil Bupati Kabupaten Serang 2010-2015, dan kini menjabat sebagai Bupati Serang (2016 – Sekarang). 

Baca Juga  Calon Bupati Kepulauan Sula Diduga Terseret Korupsi di Dinas Pendidikan Taliabu

Ratu Atut bersama adiknya, Tubagus Chaeri Wardana, terbukti terlibat dalam kasus suap eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar atas penanganan sengketa Pilkada dan kasus korupsi pengadaan alat kesehatan di Provinsi Banten. 

2. Dinasti Klaten

Dibangun selama lebih dari 15 tahun, Klaten juga dipimpin oleh dinasti politik dari keluarga Sunarna dan Haryanto. Pada periode 2000-2005, Bupati Klaten dijabat oleh Haryanto Wibowo yang kemudian digantikan oleh Sunarna pada periode 2005-2010. Selanjutnya, pada Pilkada 2010, Sunarna menggandeng Sri hartini, yang merupakan istri dari Haryanto Wibowo, sebagai wakilnya dan memenangi Pilkada periode 2010-2015. Setelah menjabat selama dua periode, Sunarna kemudian digantikan oleh wakilnya, Sri Hartini dan didampingi oleh Sri Mulyani, istri Sunarna, menjadi Bupati-Wakil Bupati tahun 2016-2021. 

Baru pada Desember 2016 silam, Sri Hartini tertangkap OTT oleh KPK dan menjadi tersangka atas kasus jual beli jabatan di wilayah Klaten.   

3. Dinasti Fuad

Dinasti politik juga terjadi di Bangkalan. Fuad Amin Imron telah memimpin Bangkalan selama dua periode mulai tahun 2003 hingga tahun 2013. Setelah itu, jabatan Bupati diisi oleh anaknya sendiri, Makmun Ibnu Fuad dan ditunjuk sebagai Bupati Bangkalan periode 2013-2018. Makmun ketika itu bahkan menjadi bupati termuda di Indonesia dengan usia baru 26 tahun. Pada tahun 2014, Fuad diangkat sendiri oleh anaknya menjadi anggota DPRD Bangkalan dan kemudian terpilih menjadi Ketua DPRD Bangkalan periode 2014-2019. 

Baca Juga  Galang Dana Covid-19, Anak Bob Marley Rilis Ulang Lagu One Love

Pada Desember 2014, Fuad ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK karena telah menerima uang suap dari pemimpin PT MKS Antonius Bambang Djatmiko sebesar Rp18,05 miiar. Selain itu, Fuad juga menjadi terdakwa kasus pencucian uang. 

4. Dinasti Cimahi

Itoc Tochija merupakan Wali Kota Cimahi pertama dan menjabat selama dua periode mulai dari tahun 2001 hingga tahun 2012 silam. Tampuk kepemimpinan tersebut kemudian diteruskan oleh sang istri, Atty Suharti dari tahun 2012 hingga tahun 2017. 

Dalam dinasti Cimahi ini, Atty Suharti ditetapkan sebagai tersangka kasus suap proyek pembangunan pasar di Cimahi sebesar Rp6 miliar dari nilai proyek Rp57 miliar. Sedangkan Itoc juga berperan aktif dalam mengendalikan kebijakan terkait tender dari proyek pembangunan di wilayah Kota Cimahi. Keduanya pun ditangkap oleh petugas KPK. 

Baca Juga  Banjir Halmahera Utara, Ratusan Warga Diungsikan ke Perbukitan

5. Dinasti Probolinggo

Dinasti Probolinggo dimulai dari Hasan Aminuddin ketika masih menjadi anggota DPRD Kabupaten Probolinggo periode 1999-2003. Setelah itu, dirinya terpilih menjadi Bupati Probolinggo selama dua periode 2003-2008 dan 2008-2013. Kemudian, kepemimpinan diteruskan oleh sang istri, Puput Tantriana Sari selama dua periode 2013-2018 dan 2018-2023. Sedangkan Hasan menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019 dan 2019-2024. 

Pada Senin (30/8) lalu, Puput dan Hasan ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK. Kepemimpinan yang bertahan selama 18 tahun tersebut berakhir dengan keterlibatan keduanya atas sejumlah kasus suap jual beli jabatan di wilayah pemerintahan Kabupaten Probolinggo. 

Selain beberapa dinasti di atas, ada juga beberapa dinasti politik lain yang akhirnya berakhir di KPK, yaitu Dinasti Kutai Kartanegara dan Dinasti Banyuasin.

(red/akurat)