Nen Dit Cak Mas, Hadir Sebagai Simbol Hukum Larvul Ngabal

oleh -26 views
Link Banner

Porostimur.com | Langgur: Nen Dit Cak Mas, merupakan satu satunya raja perempuan pertama orang Kei yang hadir sebagai peletak dasar di Bumi Lar Vul Ngabal.

Tepat hari ini perayaan dalam rangka memperingati raja perempuan pertama meletakan dasar dan nilai-nilai luhur yang sering di sebut hukum Lar Vul Ngabal.

Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung di lokasi kuburan Nen Dit Cak Mas, tepatnya berlokasi di Ohoi Samawi, Rabu (2/9/2021).

Sosok Nen Dit Cak Mas adalah merupakan agen perubahan, sekaligus mengangkat harkat dan martabat kaum wanita Kei hingga kini.

Beliau peletak dasar jukum Hawear Balwirin, atau yang sering di kenal dengan Sasi, karena Sasi sendiri merupakan bentuk larangan atas penyerobotan lahan orang, namun melalui jalur yang benar.

Baca Juga  Polda Malut Bagi Sembako Kepada Warga Kota Ternate

Selain itu terlepas dari seorang raja, Nen Dit Cak Mas memperjuangkan keseteraan gender, sehingga kaum perempuan Kei dihormati dan dilindungi hingga kini.

Hal ini dilambangkan dengan Hawear Balwirin, atau Sasi itu adalah simbol perempuan Kei yang dihormati, sehingga barang siapa yang ingin melepaskan Sasi harus melalui proses adat.

Berdasarkan pantauan media ini di lokasi Nen Dit Cak Mas, tujuan dari perayaan yang dicanangkan Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun adalah bertujuan untuk melestarikan kearifan budaya lokal yang hampir terkikis habis oleh zaman.

Peringatan Nen Dit Cak Mas kali ini ada kegiatan yang diperlombakan yakni perlombaan Ngel Ngel, Wawar dan Savargil.

Baca Juga  Kepala Bappenas RI Tinjau PPN Kota Tual

Ngel Ngel merupakan pantun Kei yang di sampaikan dengan bahasa Kei, sementara Wawar adalah menyanyi dengan menggunakan bahasa asli Kei, bahasa yang masih baku, selain itu lomba Savargil adalah lomba uji keterampilan dalam meniup suling dengan diiringi tifa. Biasanya digunakan untuk tarian sawat, tradisional orang Kei.

Lomba ini hanya diikuti oleh para pelajar tingkat SMA dan Madrasah Aliyah, sementara SMP tidak di ikut sertakan mengingat Pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PPKM, sehingga pesertanya dibatasi.

Nen Dit boleh tiada jasad, namun rohnya tetap berada dalam hati dan sanubari Nen Dit Cak Mas Muda, sehingga Budaya Kei ini tetap lestari dan tidak punah di makan zaman, oleh karena pengaruh budaya luar, yang penuh dengan glamour dan intrik. (saad)

No More Posts Available.

No more pages to load.