Bito Temmar: PDI-P Maluku Diisi Kader “Kerbau”

oleh -1.780 views
Link Banner

Porostimur.com – Ambon: Politisi senior yang juga mantan kader PDI-Perjuangan, Bitsael Silvester Temmar alias Bito Temmar mengaku prihatin dengan kondisi internal di tubuh DPD PDI-Perjuangan Maluku saat ini. Ia menilai situasi PDI-Perjuangan Maluku semakin buruk, dimana kader-kader PDI-P saat ini tidak lebih baik dari apa yang dia istilahkan sebagai “tedong” (kerbau).

Bito menyebut, dia punya alasan kuat untuk menggunakan istilah tersebut. Menurutnya situasi internal PDI-Perjuangan Maluku yang saat ini terpuruk, lantaran tidak ada otokritik dari kader. Bagi Bito ini hal yang sangat miris.

“Karena yang saya dengar itu situasi PDI-P sudah semakin buruk. Maaf ya, kita dulu yang habis-habisan memperjuangkan partai ini sampai menjadi besar, yang kita miliki pada saat itu ialah kebebabasan dan kemerdekaan. Hari ini, kader-kader PDI-P itu tidak lebih baik dari tedong. Mohon maaf tidak lebih baik dari kerbau, yang dicucuk hidungnya dan ditarik dan dibawa ke mana aja. Saya menilai begitu, karena tidak ada, otokritik daripada kadernya. Ini kan sesuatu yang sangat miris sekali,” ungkap Bito Kamis (14/10/2021).

Temmar bilang, tidak adanya otokritik sebagai akibat dari ketakutan yang berlebihan dari kader.

“Kalau sudah takut mau jadi apa. Ini kan sudah jadi tedong. Sangat disayangkan kalau semua orang jadi tedong. Tapi saya bersyukur, saya dikeluarkan sehingga saya bukan tedong lagi. Saya dikeluaran dengan cara yang sangat kasar, tapi saya bersyukur karena saya tidak bisa jadi tedong,” ujar Bito.

Baca Juga  Jance Wenno: Pemprov Maluku Jangan "Asal" Pakai Dana Pinjaman PEN

Mantan Bupati Maluku Tenggara Barat (kini Kabupaten Kepulauan Tanimbar) itu mengatakan, hasil survei sejumlah lembaga survei memperlihatkan PDI-P di Maluku turun kelas. Ia mengaku lebih senang kalau partai berlambang banteng kekar moncong putih itu turun kelas.

“Sebagai orang yang setia terhadap ideologi PDI-Perjuangan, saya menyesal. Saya pikir bahwa dengan saya dikeluarkan dengan cara yang tidak terhormat, lalu di belakang itu ada perbaikan. Ternyata hari ini, coba perhatikan saja fraksi-fraksi yang ada di PDI-P itu hancur berantakan. Coba diperhatikan saja petugas-petugas PDI-P itu hancur berantakan semua, padahal ini partai ideologis yang dulu kita perjuangkan habis-habisan. Hari ini orang duduk di PDI-P itu enak-enak. Dulu itu kita ini dianggap seperti kambing. Kita dikejar-kejar di mana-mana. Saya pikir setelah saya diberhentikan, PDI-P itu akan lebih baik. Ternyata hari ini, ya tadi seperti tedong itu. Jadi banteng berubah watak menjadi tedong,” jelasnya.

Bito juga menyangsikan Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimury mampu mengkritik Gubernur Maluku, Murad Ismail. Dia menegaskan, politikus PDI-Perjuangan di DPRD seharusnya berani mengkritik pemerintah dan bukan berjiwa penakut.

“Coba tanya Ketua DPRD Maluku apa dia berani kritik Gubernur Maluku. Tidak mungkin itu, karena mentalitas tedong sedang diintroduksi di dalam internal PDI-P. Saya di luar PDI-P saya senang-senang aja. Saya katakan saya tidak mungkin lupakan PDI-P. Kita ini bukan masuk PDI-P itu saat partai itu dia enak-enak. Kita masuk itu pada saat PDI-P teraniaya. Kita dikejar dimana-mana. Tapi saya tegaskan, mau balik lagi maaf. Saya tidak mau. Saya kritik ini karena ada keterkaitan ideologi yang saya anut dengan yang ada pada PDI-P,” tegas Bito.

Baca Juga  Duel sengit Jerman vs Turki Berakhir Imbang 3-3

Menyikapi situasi internal PDI-P sekarang ini, bukan tidak mungkin kepemimpinan PDI-P Maluku di bawah Murad Ismail akan digoyang. Namun Bito punya pendapat, pergantian kepemimpinan di tubuh PDI-P Maluku tidak akan menjamin partai itu akan lebih baik.

“Kalau atmosfir internal PDI-P seperti sekarang ini, maka siapapun itu sama saja. Karena ada ketakutan yang diciptakan di dalam internal PDI-P, sehingga kebebabasan untuk berekspresi itu dimatikan,” imbuhnya.

Disisi lain, Bito mengaku sejak lama PDI-P itu menasbihkan dirinya sebagai partai ideologi. Harusnya idiologi mejelma dalam program-program pemerintahan dan pembangunan. Teristimewa dijabarkan dalam tindakan-tindakan politik pemerintahan.

Olehnya itu, kader harus mengerti benar ideologi. Kalau kader tidak mengerti ideologi, ideologi itu hanya menjadi suatu konsep mengambang yang tidak menjelma dalam tindakan, dan PDI-P Maluku akan mengalami distorsi.

Baca Juga  Hari Film Nasional, Hannah Al Rashid Suarakan Lingkungan Syuting Aman Kekerasan

“Karena itu jangan marah, kalau hari ini ideologi tidak terjabar dalam tindakan-tindakan politik pemerintahan. Jadi apa yang terjadi dengan penolakan masyarakat di Waai tidak boleh heran. Karena entah gubernur atau Ketua DPRD Maluku bahkan kader-kader PDI-P yang lain sama sekali tidak memahami bagaimana menjabarkan ideologi ini kedalam tindakan-tindakan praktis,” sebut Bito.

Dikatakan, banyak sekali kebijakan-kebijakan yang kalau dilihat dari aspek konsepnya, kebijakan-kebijakan itu tidak punya roadmap, dan beberapa tahun terakhir ini masyarakat Maluku menyaksikan ketiadaan roadmap.

“Ya saya mau bilang proyek-proyek itu tidak bisa dilihat apa fungsinya untuk kepentingan pembangunan di Maluku. Jadi soal Ambon New Port itu dengan tidak didasarkan pada suatu konsep yang koheren, mestinya konsep sudah disediakan dari awal, tapi itu tidak pernah disiapkan, akibatnya ya, terjadi pembatalan,” tandasnya.

Bito menyentil, pembatalan proyek itu sebetulnya tamparan keras bagi Pemerintah Provinsi Maluku dan DPRD. Karena sejak lama Maluku sudah mendengung-dengungkan LIN tetapi tidak ada konsepnya.

“Karena tidak ada konsepnya ketika pemerintah pusat tidak punya good will untuk membangun misalnya, soal lokasi. Lokasi saja masih kebingungan tidak ada studi kelayakan, kemudian soal pembebasan lahan dan seterusnya karena tidak ada konsepnya,” beber Bito. (keket)