BMKG Sosial Hari Ini: “Beulanda Itam” dan Populisme Sentimental

oleh -8 Dilihat
Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Dr Ahmad Humam Hamid

Padahal demokrasi justru hidup dari pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat penguasa tidak nyaman. Kekuasaan yang sehat bukanlah kekuasaan yang selalu dipuji, melainkan kekuasaan yang bersedia diperiksa.

Namun ketika hubungan emosional antara pemimpin dan rakyat menjadi semakin kuat, kritik perlahan berubah makna. Ia tidak lagi dipahami sebagai ikhtiar memperbaiki pemerintahan. Ia berubah menjadi serangan terhadap sosok yang dicintai.

Setiap gejala sosial biasanya melahirkan kosakatanya sendiri. Gejala yang satu ini agaknya juga memerlukan sebuah nama. Barangkali istilah “populisme sentimental “ cukup membantu untuk memahami apa yang sedang berlangsung.

Populisme sendiri bukan barang baru. Literatur politik mengenalnya dalam banyak bentuk: populisme ekonomi, populisme etnis, populisme agama, populisme nasionalis, hingga populisme antielit. Wajahnya berbeda-beda, tetapi logikanya hampir selalu sama: membangun hubungan langsung antara pemimpin dan rakyat, sambil perlahan mengurangi arti lembaga-lembaga yang menjadi penyangga demokrasi.

Pengalaman Indonesia tampaknya memperlihatkan satu variasi yang menarik.

Baca Juga  Dari Namlea Menembus Panggung Proliga, Kisah Pius Janwarin Tak Pernah Menyerah

Gejala ini tidak tumbuh terutama dari kemarahan.

Ia tumbuh dari kedekatan.

Dan justru karena lahir dari rasa dekat, ia sering datang tanpa menimbulkan kecurigaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.