Bongkah Es Bersanding Dengan Bara Api

oleh -117 views
Link Banner

Cerpen Karya: Iis Nia Daniar

Mana ada yang seperti itu di dunia ini?” Parmin menyela omongan Gus.
Gus mengelepuskan asap puntung rok*knya ke udara sembari melotot pada Parmin. Parmin terdiam dan menunduk pura-pura mencari sesuatu.
“Ini ni, orang yang hidupnya tidak pernah kaya,” Gus menunjukkan telunjuknya pada Parmin di hadapan teman-teman yang lain.
Sontak teman-teman yang lain seperti Badrun, Wak Kijo, Mas Muaarif, dan Tarsiah, isteri Parmin tertawa lepas. Parmin hanya memainkan matanya sambil cemberut agak kesal. Dia merasa telah dipermalukan oleh Gus.
“Ya wis, aku ngaku. Aku iki dadi wong melarat dari masih jadi benih dalam rahim Mbokku. Puas tah sampeyan?” bentak Parmin.

Suasana kembali hening. Hanya terdengar sesekali kendaraan yang melintas di Jalan Raya Juanda kota ini. Angin malam seperti sudah menjadi kerabat dekat bagi Gus, Parmin, dan teman-teman gelandangan yang lain. Emperan toko tempat mereka melepas lelah di malam hari selalu sama. Favorit mereka adalah depan toko Mas Anyan. Mereka beranggapan bahwa dengan selalu bedekatan pada hawa emas yang keluar dari dalam toko tersebut, aura positif mereka akan keluar di pagi hari. Aura inilah yang akan mendatangkan rejeki pada mereka di hari itu.

Baca Juga  Seolah Lelucon, Virus Corona Dijadikan Lagu Bergenre Dangdut Koplo

Gus menyeruput kopi hitamnya, sedangkan Parmin dan yang lain kembali sibuk dengan kartu-kartu gaplenya. Tarsiah mencari posisi untuk merebahkan badannya yang kurus kering dan melempangkan tenggorokannya yang terus saja batuk-batuk karena seliweran angin dan debu.

“Aku ini hanya mengandaikan. Jika saja bongkahan es tetaplah bongkahan es yang membeku, kendati disandingkan dengan api yang membara. Dunia ini akan tidak terlalu dingin dan tidak terlalu hangat. Koyo lagune sopo toh? Eh, lali aku,” Gus menepuk bahu Badrun, anak muda yang duduk tak jauh di sampingnya.
“Oh, Alam Pakle. ‘Sedang-Sedang Saja’,” jawab Badrun senyum-senyum.
“Adem ayem tentrem ngono maksudmu?” Wak Kijo bertanya sambil mengerik dadanya dengan remason.
“Ya, iya. Tenteram!” Gus menegaskan perkataannya sambil berdiri dan mengepalkan tangan kirinya.

“Lalu bagaimana dengan para setan dan sebangsanya? Apa mereka dipensiunkan dari tugasnya?” tanya Mas Muaarif yang jebolan pesantren sambil melempar satu kartu gaplenya ke tengah arena.
“Ya bagaimana dengan kita nantinya?” Tarsiyah menyahut dari kejauhan arena gaple.
“Maksudmu, Nduk?” Wak Kijo tidak mengerti apa yang dibicarakan Tarsiyah.

Baca Juga  Lagi, 1 nelayan hilang di laut MTB

Tarsiyah bangun dan memegang dadanya yang terasa sesak, “Gini loh Wak, kita saja sudah sempit berkumpul di depan emper toko ini karena tidak punya kerjaan tetap. Lah kalau ditambah dengan bangsa setan apa tidak mbludak depan emperan toko ini.”

=======

Iis Nia Daniar

adalah guru tenaga kontrak pada salah satu SMP Negeri di Kota Bekasi. Cita-citanya memberikan warisan kumcer pada anak sematawayangnya Ishafani.