Karena itu, ia menilai pengembangan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
Masyarakat dan komunitas harus mengambil bagian dengan membangun ruang-ruang membaca di lingkungan masing-masing.
Kasman mendorong masyarakat menyediakan pojok baca, perpustakaan sederhana, serta membentuk komunitas membaca dan menulis.
Menurutnya, komunitas yang tumbuh dari masyarakat dapat menjadi tempat lahirnya penulis baru sekaligus ruang untuk mengembangkan karya-karya dari Maluku Utara.
“Festival Buku ini sebuah ekosistem literasi yang mulai kita wujudkan. Mudah-mudahan terus ditebarkan,” katanya.
Ia berharap keterlibatan pelajar, mahasiswa, komunitas hingga masyarakat umum dalam kegiatan literasi menjadi modal awal untuk membangun budaya membaca dan menulis yang lebih kuat.
Sekolah Jadi Basis Penguatan Budaya Baca
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku Utara, Abubakar Abdullah, mengatakan BookFest menjadi salah satu momentum untuk mendorong tumbuhnya budaya literasi di daerah.
Menurutnya, penguatan budaya membaca harus dimulai dari lingkungan pendidikan.
Sekolah, kata Abubakar, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, tetapi juga harus menjadi ruang yang menumbuhkan kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi dan mengembangkan pengetahuan.






