Budaya Pelangi LGBTQ

oleh -198 views

Setiap bulan Juni, tak sedikit perusahaan multinasional mengganti logo mereka dengan warna pelangi sebagai bentuk dukungan terhadap Pride Month, yang diperingati di banyak negara. Ada parade-parade kebanggaan yang berlangsung di berbagai kota besar dunia.

Ada lagi representasi yang semakin luas dalam budaya populer. Film-film seperti “Brokeback Mountain”, “Moonlight”, “Call Me by Your Name”, atau serial “Heartstopper” menghadirkan tokoh-tokoh LGBTQ sebagai bagian dari cerita utama.

Lagu “Born This Way” karya Lady Gaga menjadi semacam anthem bagi banyak pendukung gerakan tersebut. Ada kampanye penggunaan istilah dan pronomina tertentu sebagai bentuk pengakuan identitas gender.

Semua itu membentuk sebuah ekosistem simbol, narasi, dan representasi yang melampaui batas negara. Inilah yang tampaknya dimaksud pemerintah dengan istilah “budaya”. Yang menjadi perhatian bukan semata-mata keberadaan individu, melainkan penyebaran simbol, narasi, dan pembiasaan yang membentuk cara pandang masyarakat.

Setuju atau tidak terhadap pandangan pemerintah, setidaknya kita dapat memahami mengapa kata yang dipilih bukan “LGBTQ”, melainkan “budaya LGBTQ”. Sementara LGBTQ sendiri merupakan akronim yang merujuk pada Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer. Dalam perkembangannya, akronim ini sering diperluas menjadi LGBTQ+.

No More Posts Available.

No more pages to load.