Bumi Halmahera: Dari Mata Air di Hulu ke Airmata di Hilir

oleh -760 views

Sumber daya tambang yang melimpah ibarat mata air di hulu—mengalir deras, diperebutkan, dan dijanjikan membawa kemakmuran. Namun aliran itu tampaknya tak pernah benar-benar sampai ke hilir, ke masyarakat yang hidup di lingkar tambang.

Yang tersisa justru jejak kerusakan dan ketimpangan.

Hilirisasi nikel yang digadang-gadang sebagai solusi, dalam banyak kasus, belum menyentuh akar persoalan. Ia lebih menyerupai kamuflase pertumbuhan—mengilap di permukaan, tetapi rapuh di dasar.

Maka, metafora itu menemukan relevansinya: dari mata air di hulu, menjadi airmata di hilir.

Menata Ulang Arah Pembangunan

Halmahera tidak kekurangan sumber daya. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menata ulang arah pembangunan: memastikan bahwa eksploitasi tidak melampaui daya dukung lingkungan, bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keadilan sosial, dan bahwa suara masyarakat lokal tidak tenggelam di tengah gemuruh investasi.

Baca Juga  Tragedi Yuvi Cileunyi

Jika tidak, maka sejarah akan mencatat bahwa di tanah yang begitu kaya, kesejahteraan justru menjadi barang langka.

Dan Halmahera akan terus dikenang—bukan sebagai tanah harapan, melainkan sebagai kisah tentang bagaimana kekayaan bisa berubah menjadi kesedihan. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.