“Artinya buat rekan-rekan Forkopimda TNI-POLRI, ini barang kali sudah disampaikan bahwa pendekatan di Maluku Tenggara ini pendekatannya adalah pendekatan adat dan budaya. Cuma di dalam kehidupan ini dia sudah mulai menyatu di tinggi. Keinginan lebih tinggi, kehidupan dia sudah mulai berubah. Mereka juga menerima hal-hal yang baru lalu meninggalkan hal-hal yang lama,” ujar Hanubun..
“Jadi, teman-teman TNI-Polri yang di Daerah Maluku khususnya di Maluku Tenggara, Maluku Tenggara itu 5 Kabupaten/Kota sekarang. MBD, Tanimbar, Aru, Kota Tual dan Maluku Tenggara itu tahun kerusuhan itu masih satu, Kabupaten induknya di Maluku Tenggara. Sekarang dia sudah dimekarkan menjadi 5 Kabupaten Kota,” sambungnya.
Bupati Thaher menjelaskan, beberapa kali kondisi konflik termasuk urusan lahan dan lain-lain biasa selalu mengganggu keamanan dan ketertiban.
“Dan ini para tokoh agama ada, kita semua bekerja keras untuk bagaimana meredamkan suasana ini, termasuk didalamnya mungkin ada rencana-rencana beberapa orang pasang sasi di jalan bandara, ini juga menghambat,” ujarnya.
Bulan Oktober ini kita mau buat Festival Pesona Meti Kei, pasti orang banyak disini. Tetapi keinginan-keinginan yang luar biasa yang tidak mendapatkan kepentingan umum, lebih banyak mengutamakan kepentingan-kepentingan pribadi akhirnya kepentingan umum harus dikalahkan.









