“Orang datang bertamu di sini diagungkan. Tidak pernah dibedakan. Itu orang Kei,” katanya.
Adat Kei Bukan Sekat, tetapi Perekat Persaudaraan
Thaher mengatakan, nilai keterbukaan, penghormatan, dan persaudaraan tersebut harus terus dipelihara di tengah perubahan zaman. Menurutnya, nilai-nilai itu merupakan modal sosial penting untuk menciptakan kehidupan yang aman sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Ia juga menyinggung hubungan antara Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual yang menurutnya tidak seharusnya dibatasi oleh sekat administratif.
Kedua wilayah, kata Thaher, memiliki hubungan sejarah, budaya, dan kekerabatan yang kuat sebagai bagian dari masyarakat Evav atau Kei.
“Saya tidak pernah bilang Maluku Tenggara dan Tual beda. Kita sama-sama orang Kei. Kita ini satu darah Evav (Kei),” tegasnya.
Menurutnya, keterhubungan masyarakat Maluku Tenggara dan Kota Tual telah berlangsung secara alamiah dalam berbagai bidang, mulai dari aktivitas ekonomi, pekerjaan, pendidikan, pemerintahan hingga kehidupan sosial.
Mobilitas warga di antara kedua wilayah juga menjadi gambaran kuatnya hubungan tersebut meski secara administratif berada di wilayah pemerintahan yang berbeda.
“Kalau begitu, ngapain bangun sekat? Kita harus saling jaga,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat tidak memperbesar perbedaan berdasarkan batas wilayah administratif, tetapi menjadikan persaudaraan sebagai kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.











