“Beta Kei” Harus Dibuktikan dengan Sikap
Lebih lanjut, Thaher menegaskan bahwa identitas “Beta Kei” tidak cukup hanya diucapkan. Identitas tersebut, menurutnya, harus tercermin dalam sikap dan perilaku setiap orang yang hidup di Kepulauan Kei.
Rasa memiliki terhadap tanah Kei dapat diwujudkan dengan menghormati adat, menjaga ketertiban, menghargai sesama, memelihara lingkungan, serta ikut berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Semua itu orang Kei. Kita harus saling mencintai,” serunya.
Thaher turut menyebut sejumlah wilayah dan komunitas, seperti Yut, Nuhuroa, Tutu, Tavun, Saran, dan Salam, sebagai bagian dari ikatan persaudaraan masyarakat Kei.
Semangat persaudaraan tersebut, kata dia, harus terus diwariskan kepada generasi muda agar identitas budaya Kei tidak berhenti sebagai simbol, tetapi tetap hidup dalam perilaku masyarakat sehari-hari.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat, baik yang lahir di Kepulauan Kei maupun mereka yang datang dan memilih menetap, untuk bersama-sama menjaga kehidupan sosial sekaligus menghormati adat setempat.
“Kalau mau hidup di Kei, jadi bagian dari Kei. Jangan merasa orang luar,” tutup Thaher.
(red/mcmalra/adolof)
Porostimur.com berkomitmen memberikan fakta jernih, terpercaya, dan berimbang. Simak berita dan artikel terbaru kami di: WhatsApp Channel porostimur.com









