“Nala sudah bercerita bahwa kau tidak bisa hadir di pertunanganku, kenapa wi?” Laki-laki yang lulus jurusan teknik dengan jalur tes ini ternyata lebih bodoh dari Nala seorang pegawai supermarket. Kini aku setuju pendapat Nala yang mengatakan ia naïf sekali karena menolak S1 di Universias Negeri demi mempertahakan D3 di Universitas lain. Ia tak menangkap apa maksudnya atau aku yang terlalu bodoh mengharapkan ia mengerti atas sikapku.
“Aku ada kerjaan dit.”
“Ayo lah kau ikut Wi, kau juga orang yang berjasa atas kisah cintaku dengan Kenanga.”
“Nanti kuusahakan.” Ia merangkul bahuku, mengacak-acak rambutku lalu mengecupkan ciuman kecil di kepala sambil menggumamkan terimakasih berulang kali. Genagan tumpah dimataku sesuatu yang kusembunyikan dibalik pelukan kami. Menghirup wewangian itu dalam-dalam menyelami perpisahan kecil seakan tak ada hari esok untuk memeluknya seperti ini.
“Terimakasih sudah mengenalkanku dengan Kenanga, Wi.” Aku mengeratkan lagi pelukan kecil itu menjadi sesuatu yang kuat dan tak ingin dipisahkan. Karena airmataku sudah membasahi jaketnya. Ia terus bertanya mengapa namun aku masih terus memeluknya untuk menyembunyikan wajah bodohku.
“Rawi!”
Aku terdorong mundur berjarak dari dudukku sebelumnya. Aidit melepas pelukanku yang hampir saja terjatuh karena dorongannya yang cukup keras dengan rasa takutnya ia sampai lupa mengucap maaf. Mengarah pada pandangannya terlihat Kenanga berdiri dengan tatapan tak terbaca lalu disampingnya berdirilah Nala dengan raut wajah bingung dan heran menatap kehadiranku. Mendadak warung kopi menjadi hening seakan bapak-bapak ini siap melihat pertikaian kami. Baru kali ini kulihat Aidit ketakutan parah seakan kami berdua ketangkap basah sedang bercinta nyatanya ini hanya sebuah pelukan yang tak berarti apa-apa, yang akan dirampas Kenanga selamanya. Namun Aidit tidak mengetahui siapa Kenanga, wanita penuh kesabaran dan kelembutan jiwa yang siapa saja lelaki melihat pandangan sayunya maka ia akan jatuh pada pesona seorang Kenanga Mestari.









