Lagu tersebut diciptakan sebagai respons atas keadaan sosial masyarakat saat itu.
“Karena saya bikin lagu itu ngrespons keadaan sosial, diskusi dengan Romo Sindhunata, dan merespons (lukisan) karya Joko Pekik tentang (berjudul) Berburu Celeng,” katanya.
Encik mengaku mengetahui lagunya menjadi populer hari ini. “Itu pun dari berita orang-orang,” ujarnya.
Encik menduga lagu tersebut menjadi viral dan populer saat ini mungkin karena dipakai untuk merespons pernyataan Bambang Pacul yang menyebut kader PDIP di luar barisan sebagai celeng.
“Secara konten memang lagu itu kritik yang ada di album saya ‘Celeng Dhegleng’ Leng Ji Leng Beh’,” imbuhnya.
Encik pun kembali menegaskan, lagu ciptaannya tersebut sudah ada sebelum polemik banteng versus celeng di internal PDIP mengemuka sejak akhir pekan lalu. Menurutnya konten lagu tersebut sudah ada platform digital sejak awal diluncurkan.
“Sebetulnya nggak ada kaitannya (lagu dengan konflik di PDIP), nyambung sekarang,” jelasnya.
(red/detikcom)





