Mereka bebrbincang tentang tentang “sifr” (tempat kosong), yang kita sebut sekarang sebagai nol (0).
Al-Khwarizmi berpendapat bahwa sifr adalah sebuah angka, sedangkan Aziz menyangkalnya bahwa angka nol bukanlah sebuah angka dan hanya sebuah ‘tempat’.
Kemudian, Al-Khwarizmi menunjukkan bahwa sifr bisa digunakan dalam perhitungan matematika, ia pun menggunakan tumpukan koin sebagai perumpamaan.
Sementara untuk mengalikannya dengan nol (0), Al-Khwarizmi tidak meletakkan tumpukkan koin sama sekali.
Menurutnya, berapa pun angkanya, jika dikalikan dengan nol, hasilnya akan tetap nol. Pemikiran cendekiawan muslim Al-Khwarizmi inilah yang masih digunakan dalam penyelesaian matematika hingga sekarang.
(red/dtc)






