Chatib Basri, Istana, dan Rumor yang Kembali Bernapas

oleh -66 views

Dalam ruang seperti itu, rumor menemukan habitat alaminya.

Ia tumbuh di antara bantahan dan dugaan. Ia berkembang di antara fakta dan tafsir. Kadang ia mati. Kadang ia terbukti.
Tetapi lebih sering lagi, ia bertahan karena publik merasa ada sesuatu yang belum dijelaskan secara utuh.

Mungkin itulah yang sedang terjadi hari ini.

Sebab perhatian publik tidak sepenuhnya tertuju pada siapa yang akan menjadi Menteri Keuangan. Perhatian itu sesungguhnya tertuju pada pertanyaan yang lebih mendasar: ke mana arah ekonomi Indonesia akan dibawa, dan siapa yang dianggap cukup dipercaya untuk memegang kemudinya.

Chatib Basri hadir dalam percakapan itu bukan semata-mata karena reputasinya sebagai ekonom. Ia hadir karena namanya memanggil kembali ingatan pada satu periode ketika bahasa ekonomi lebih sering dibangun melalui argumentasi ketimbang slogan.

Baca Juga  Tafsir Air Mata Nanik

Beberapa hari sebelumnya, Chatib juga menulis sebuah esai di Majalah Tempo tentang Sumitro Djojohadikusumo—ayah dari Prabowo Subianto.

Tulisan itu tidak berbicara tentang APBN, kurs rupiah, atau pertumbuhan ekonomi. Ia berbicara tentang seorang guru, seorang intelektual, dan seorang pemikir yang memandang ekonomi sebagai bagian dari peradaban.

Mungkin itu pula sebabnya kemunculan Chatib di Istana segera memantik berbagai tafsir. Dalam politik Indonesia, sebuah pertemuan bisa dibaca sebagai sinyal. Sebuah tulisan bisa dibaca sebagai pesan. Dan sebuah kebetulan sering kali dianggap terlalu penting untuk disebut kebetulan.

No More Posts Available.

No more pages to load.