
Menurut penelitiannya, seperti halnya di kamp-kamp konsentrasi, saat ini ada dorongan untuk menghapus penggunaan bahasa Uighur dan bahasa lokal lainnya di lingkungan sekolah. Peraturan sekolah menguraikan hukum yang tegas bagi siswa dan guru jika mereka berbicara menggunakan bahasa selain Mandarin.
Hal itu sejalan dengan pernyataan resmi yang mengklaim bahwa Xinjiang telah menerapkan pengajaran bahasa Mandarin penuh di semua sekolahnya. Menurut dokumen resmi pemerintah, tujuan penggunaan bahasa Mandarin di sekolah adalah guna memastikan siswa etnik minoritas dapat menguasai dan menggunakan bahasa nasional pada 2020.

“Saya pikir bukti untuk secara sistematis memisahkan orang tua dan anak-anak adalah indikasi yang jelas bahwa Pemerintah Xinjiang berusaha membangkitkan generasi baru yang terputus dari akar asli, kepercayaan agama, dan bahasa mereka sendiri,” ucap Zenz.
Pejabat senior di Departemen Propaganda Xinjiang, Xu Guixiang menyangkal bahwa pemerintah mengambilalih pengasuhan dan perawatan sejumlah besar anak-anak di wilayah tersebut yang menyebabkan mereka kehilangan orang tuanya. “Jika semua anggota keluarga telah dikirim ke pelatihan kejuruan, maka keluarga itu pasti memiliki masalah yang parah. Saya belum pernah melihat kasus seperti itu,” kata Xu.




