Corong Alus Merehabilitasi Jokowi?

oleh -5 Dilihat

Sedikitnya, di tengah berbagai problem kenegaraan, Bocal dan Tempo ikut menentukan siapa yang dianggap penting dalam realitas politik hari-hari ini. Seorang politikus ditempatkan di sampul majalah, diwawancarai secara eksklusif, dan diberi ruang untuk berbicara, Bocal dan Tempo sedang melakukan apa yang dalam studi komunikasi dinamai agenda setting. Apa dan siapa yang layak dipikirkan dan diperhatikan publik.

Bocal dan Tempo mengajak publik memikirkan: Jokowi dan pilpres 2029, secara prematur. Seolah-olah Ia cuma aktor politik yang “ancang-ancang bermanuver” untuk Pemilu 2029. Bukannya mantan presiden kontroversial, penuh skandal, yang layak dibongkar sepak terjang politiknya, termasuk kontroversi ijazahnya.

Bocal dan Tempo dikenal sebagai media yang keras mengkritik berbagai aspek penyalahgunaan kekuasaan Jokowi. Namun diwawancara kali ini Bocal menghadirkan Jokowi sebagai sosok politikus generik, yang siap ancang-ancang dan bermanuver politik. Publik tentu tidak menuntut Bocal dan Tempo lantang menyerang Jokowi. Jurnalisme tidak membutuhkan amarah, tapi memerlukan disiplin epistemik, untuk tidak menerima begitu saja narasi dan retorika politikus bermasalah.

Baca Juga  Netanyahu Kian Agresif di Tepi Barat, Israel Siapkan Permukiman untuk “Aliyah Besar-Besaran” Yahudi

Bocal dari “Bocor Alus” menjadi “Corong Alus”. Alih-alih membocorkan info dan intrik politik kekuasaan. justru memberikan corong mikrofon agar Jokowi bisa ngomong sesukanya tanpa dikonfrontir, demi menarik atensi dan simpati. Pertanyaan yang menggelayut, mengapa Jokowi sekarang membuka pintu untuk Bocal (Tempo)? Dan mengapa perlu dua kali sesi wawancara, off dan on the record?

No More Posts Available.

No more pages to load.