Corong Alus Merehabilitasi Jokowi?

oleh -3 Dilihat

Oleh: Lukas Luwarso, Kolumnis, Jurnalis senior

Tugas jurnalisme adalah “menyenangkan orang susah dan menyusahkan orang senang” (comfort the afflicted and afflict the comfortable). Ketika jurnalisme memberi panggung kepada politikus bermasalah untuk menata kembali citranya, maka jurnalisme berubah menjadi corong. Wawancara digelar untuk memberi panggung kepada si politikus untuk membangun kembali narasinya. Wawancara eksklusif Bocor Alus (Bocal) dengan Jokowi, lebih mirip audiensi, upaya merehabilitasi politikus yang sudah “Ancang-Ancang Bermanuver untuk Pemilu 2029”.

Bocal menyebut wawancara eksklusif dengan Jokowi berlangsung dalam dua pertemuan, 22 Juli dan 11 Agustus 2026. Bocal dikenal kritis terhadap Jokowi, namun entah kenapa hasil wawancara dengan Jokowi tidak menunjukkan kenakalannya dalam membocorkan Informasi. Justru sengaja menyembunyikannya, dalam wawancara pertama yang off the record.

Yang dibocorkan cuma wawancara on the record hambar dan membosankan. Terkesan memberikan panggung, corong, bagi Jokowi untuk menjelaskan persepsi dan posisi dirinya. Para jurnalis Bocal kehilangan daya kritis-nakalnya, wawancara menjadi sekedar percakapan ringan (soft talk, alih-alih hard talk), Memberi Jokowi keleluasaan untuk berbicara relatif tanpa sanggahan, dan kesempatan menata ulang bingkai cerita tentang dirinya.

No More Posts Available.

No more pages to load.