Kita harus menghidupkan kembali rasa malu ketika kekuasaan menggunakan hukum untuk kepentingannya sendiri. Kita harus membangun kembali penghormatan terhadap oposisi, kebebasan akademik, pers yang kritis, masyarakat sipil dan lembaga-lembaga negara yang independen.
Dan yang tidak kalah penting: kita perlu menghidupkan kembali keteladanan politik.
Republik tidak hanya dibangun oleh undang-undang. Ia dibangun oleh kebiasaan baik yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, mungkin inilah makna terdalam dari metafora The Odyssey yang digunakan Anies.
Kita tidak boleh hanya sibuk mencari siapa yang membawa Kuda Troya ke dalam rumah republik.
Kita juga harus bertanya:
Mengapa penjaga republik membuka pintunya?
Jawabannya mungkin terletak pada melemahnya etika kekuasaan.
Ketika jabatan dianggap sebagai hak milik, hukum akan dicari untuk membenarkan kepentingan. Ketika kekuasaan dianggap sebagai tujuan, institusi akan diperlakukan sebagai alat. Tetapi ketika kekuasaan dipahami sebagai amanah, hukum kembali menjadi batas dan rakyat kembali menjadi pemilik kedaulatan.
Maka dari hukum yang retak, kita perlu bergerak menuju sesuatu yang lebih fundamental:
etika kekuasaan.
Sebab hukum yang kuat tanpa etika hanya akan menghasilkan kekuasaan yang lebih pandai mencari celah.











