Demokrasi di Bawah Intimidasi Premanisme

oleh -598 views
Ansori

Menyerah memang sering terasa sebagai pilihan yang aman. Diam kerap dianggap lebih bijak daripada bersuara. Namun jika terlalu banyak orang memilih diam, demokrasi perlahan akan kehilangan keberanian moralnya. Ia mungkin masih bertahan secara prosedural—pemilu tetap berlangsung, lembaga negara tetap berjalan—tetapi kebebasan yang menjadi jiwanya telah hilang.

Sebaliknya, mereka yang memilih untuk tetap bertahan pada keyakinan terhadap kebenaran sering kali harus menghadapi risiko yang tidak kecil. Ancaman terhadap diri sendiri, tekanan sosial, intimidasi terhadap keluarga, bahkan kemungkinan kehilangan nyawa adalah risiko nyata yang kerap dihadapi oleh mereka yang mempertahankan kebenaran di ruang publik.

Sejarah menunjukkan bahwa demokrasi selalu lahir dan bertahan karena keberanian semacam ini. Tidak ada kebebasan yang lahir tanpa keberanian untuk mempertahankannya.

Baca Juga  Anos Yermias Apresiasi Pangdam XV/Pattimura Percepat Pembangunan Helipad di Lermatang

Dalam perspektif spiritual, keberanian moral tersebut juga memiliki dasar yang kuat. Al-Qur’an memberikan penguatan bagi mereka yang berjuang di jalan kebenaran: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139)

Ayat ini mengingatkan bahwa mereka yang memperjuangkan kebenaran tidak seharusnya dikuasai oleh rasa takut. Sebab dalam setiap perjuangan moral selalu ada keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya tidak akan pernah benar-benar dapat dibungkam.

No More Posts Available.

No more pages to load.