Di Kuil Penyiksaan Orde Baru

oleh -29 Dilihat
Dhimam Abror Djuraid

Kisah penyiksaan itu juga ditulis oleh Leila S. Chudori dalam novel ‘’Laut Bercerita’’ (2017). Kisah mengenai teman Nezar yang diberi nama ‘’Laut’’ yang diculik dan disiksa sampai mati. Dikisahkan bahwa Laut ditenggelamkan di perairan Jakarta dengan dimasukkan ke dalam drum dan dicor dengan semen.

Pelaku teror yang mengerikan itu adalah sebuah tim yang dinamakan Tim Mawar. Terdiri dari sekelompok militer pilihan di bawah pimpinan Prabowo Subianto yang ketika itu menjadi komandan Kopassus. Pengadilan terhadap kasus itu sudah dilakukan. Pelaku dihukum penjara dan Prabowo dipecat dari dinas militer.

Nasib korban penculikan sampai sekarang masih gelap. Keluarga korban menuntut pengungkapan yang tuntas. Tapi tuntutan itu menjadi ‘’cry in the dark’’, teriakan di kegelapan, tak seorang pun mendengarnya.

Baca Juga  Ditanya Kasus Penyadapan Listyo Cs, Menperin Sarmuji: Saya Enggak Suka Sadap, Sukanya yang Sedap-sedap

Nezar lebih beruntung. Ia selamat, bebas, dan sekarang menikmati kekuasaan bersama Prabowo yang pernah menculiknya. Inilah yang disebut sebagai ‘’Stockholm Syndrome’’, sindrom psikologis yang dialami oleh korban penculikan yang jatuh cinta kepada penculiknya.

Selain Nezar ada sejumlah nama korban penculikan yang menjadi menteri di kabinet Prabowo. Budiman Sudjatmiko menjadi kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Mugiyanto Sapin menjadi wakil menteri HAM. Faisol Reza wakil menteri perindustrian, Agus Jabo Priyono menjadi wakil menteri sosial. Mereka semua adalah korban penculikan yang penderitaannya dikisahkan oleh Nezar dalam ‘’Di Kuil Penyiksaan Orde Baru’’.

No More Posts Available.

No more pages to load.