Di Kuil Penyiksaan Orde Baru

oleh -31 Dilihat
Dhimam Abror Djuraid

Mereka semua adalah penentang militerisme Orde Baru. Tetapi sekarang mereka berada pada rezim yang banyak disebut sebagai rezim yang mirip dengan Orde Baru dalam hal militerisasi kekuasaan.

Nezar dan kawan-kawan punya pengalaman first hand bagaimana kekuasaan militer akhirnya menjadi otoriter dan ingin tetap bertahan dengan kekuasaannya. Rezim militer selalu anti kritik karena tidak punya tradisi demokrasi. Para aktivis itu paham betul bahwa militer tidak boleh memegang jabatan sipil, karena militer memegang senjata.

Beberapa insiden yang terjadi baru-baru ini menunjukkan gejala rezim yang tipis kuping dan anti-kritik. Sebuah artikel yang muncul di Detik.com yang mempertanyakan keterlibatan militer dalam jabatan sipil harus dicabut, karena penulisnya mendapatan teror dan keselatamannya terancam. Detik.com yang ketakutan terhadap tulisan itu buru-buru mencabut dan mencatut Dewan Pers sebagai alasan. Kondisi ini sangat familiar di zaman Orde Baru.

Baca Juga  Perkuat Ketahanan Energi, Pemerintah Siapkan Storage Minyak hingga 60 Hari dan Bioetanol E20

Beberapa waktu yang lalu teror yang sama dialami oleh Majalah TEMPO yang menerima kiriman potongan kepala babi dan beberapa bangkai tikus yang terpenggal kepalanya. Sampai sekarang tidak ada penyelesaian serius terhadap insiden itu.

Bagi Nezar dan kawan-kawan yang pernah menjadi wartawan di era Orde Baru, peristiwa itu adalah sebuah déjà vu, sesuatu yang terjadi berulang. Teror dan intimidasi adalah ritual rutin rezim Orde Baru.

No More Posts Available.

No more pages to load.