Di Pelukan Tarakani & 3 Puisi Lain Nuriman Bayan

oleh -5 views

PULANG YANG KITA BAWA PERGI

Pulang yang kembali kita bawa pergi adalah sepi yang tinggal di rumah ibu: di meja makan, di ruang tamu, di gandaria, di difan, di dego-dego, di tungku batu yang harum gonofu dan fofau, yang dipagari kayu yang beberapa patahan ibu cahi dengan saloi dengan jumlah yang foloi.

Kita pergi meninggalkan Mei di bawah hujan, dowotu, dan banjir, yang kita yakini sebagai wao majozira.

Kita pergi dengan dada yang meledak-ledak. Seperti ledakan mata ikan yang ibu goreng di suatu pagi. Seperti ledakan bambu yang ayah belah tanpa janji.

Kita pergi meninggalkan Mei dengan dada yang meledak-ledak. Seperti suara ombak yang memukul perahu ayah di suatu pagi.

Kita pergi dengan perih, dan yang tinggal di rumah ibu, hanya sepi.

Tarakani, 2022.

=======

DARI TIMUR IBU

Dari tepi pantai ini
tak banyak yang ingin kami kenang
tak banyak yang ingin kami pandang
selain mata pagi dan sebuah perahu
mata air dan mata ibu
mata cinta dan mata rindu
mata anak-anak yang ingin tumbuh dengan damai
dengan sabua, babari, dan roriyo
dengan hati yang bersih penuh kasih.

Sungguh,
tak banyak yang ingin kami kenang
sebab di dalam hati kami, hanya ada cinta.

2022.

=======

DI PELUKAN TARAKANI

Entah berapa kali lagi kami harus pergi
dari kepulan asap gonofu dan fofau
dari pelukan dego-dego dan pohon baru
meninggalkan ibu
meninggalkan hijau
meninggalkan biru
meninggalkan tanah yang memberi kami nama

di pelukan tarakani, tanpa aya-aya dan sosiru
kami tapis-tapis rindu kami
kami aya-aya rindu kami
seperti mama menapis padi
seperti mama mengaya tepung

semakin kami tapis rindu semakin menjadi
semakin kami aya rindu semakin luka parah

tapi kami harus pergi
entah berapa lama
meninggalkan ibu
dalam sepi.

Dari Timur Ibu, 2022.

=======

LIMA KALI SUDAH KITA GAGAL

Lima kali sudah kita gagal melepas pandara
dari kota yang harum rempah dan sejarah
(walau itu tinggal nama)

di ujung tanduk kepergian
kita bukan risau kepada musim dan cuaca
atau kepada angin yang datang tak kita baca
atau kepada hujan yang turun tak kita duga
atau kepada ombak yang tiba-tiba mendera
bukan juga kepada kota yang dulu
menyusui kini mulai menghisap

kita risau dengan diri sendiri
mengapa tuju tak kita ubah
sebelum mama melepas
dan kita pergi.

Lima kali sudah kita gagal melepas pandara
dari kota yang bersumpah,

kami bersumpah
Ternate adalah kota rempah
rempahnya kami makan
sampahnya kami biarkan.

Kami bersumpah
Ternate adalah kota sejarah
kotanya kami berdayakan
sejarahnya kami timbun.

Kami bersumpah
kami tak tahu
ini sumpah siapa.

2021.

======

No More Posts Available.

No more pages to load.