Di Simpang Dunia

oleh -38 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Metaforanya sederhana: Indonesia bukan bidak catur. Ia adalah pemain yang memegang dua papan sekaligus. Di satu papan, ia bermain dengan Washington — mendapat akses teknologi militer mutakhir, dari drone hingga sistem bawah laut.

Di papan lain, ia bertransaksi dengan Moskow dan New Delhi. Tujuannya jelas, untuk mengakumulasi daya gentar melalui rudal supersonik yang bisa mengunci Selat Malaka seperti gembok raksasa di leher perdagangan global.

Dan Selat Malaka itu sendiri bukan sekadar jalur laut. Ia adalah “keran oksigen” bagi ekonomi dunia, terutama Tiongkok. Sekitar 80 persen impor energi China melintas di sana. Artinya, siapa yang menguasai Malaka, tidak sekadar menjaga perairan — ia menggenggam denyut nadi industri global.

Baca Juga  Pastikan Pembangunan RS Pratama Ibu Dilanjutkan, Bupati Halbar: Pakai APBD

Indonesia, dengan geografinya yang seperti sabuk pengaman di leher selat itu, tiba-tiba bukan lagi negara berkembang biasa. Ia berubah menjadi “penjaga gerbang” yang diam-diam menentukan siapa bisa bernapas, dan siapa yang tersedak. Dan dalam dunia energi, tersedak itu bukan metafora — itu krisis.

Namun permainan ini tidak lahir kemarin sore. Ia adalah warisan panjang sejak 1945: politik luar negeri “bebas aktif”. Sebuah prinsip yang sering disalahpahami sebagai netralitas, padahal lebih tepat disebut sebagai “kebebasan untuk tidak dikurung”.

No More Posts Available.

No more pages to load.