Dramaturgi di Panggung Sastra

oleh -379 views

Orang tak merasa perlu menemukan prisinalitas dalam dirinya. Mereka ingin seperti Jassin, bekerja keras melestarikan kerja dokumentasi Jassin dan ada pula yang membangun institusi baru juga dengan strategi yang tak prisinal. Dunia sastra kita dipenuhi para pengekor bukan hanya dalam menghasilkan karya sastra, tapi juga dalam strategi kerja-kerja budaya. Namun, satu hal yang tampak sama pada setiap kerja budaya itu adalah kemampuan mengolah kepentingan pribadi menjadi kepentingan golongan, membangun kesan seakan-akan berpikir nasional meskipun sesungguhnya sedang berupaya agar segala yang nasional berarti semua hal yang mereka rumuskan.

Mereka mudah dikenali dari keseragaman pemikirannya dalam membela gagasan-gagasan komunitasnya. Selama puluhan tahun, dunia sastra kita melakukan perlawanan terhadap karya-karya yang dilabeli “sastra kiri”, dan semua sastrawan merasa punya tanggung jawab untuk menyingkirkan “sastra kiri” tersebut. Mereka sepakat untuk mendorong “sastra kontekstual” yang justru “sangat kiri”, dan ini membuat mereka bingung sehingga perlu mencari-cari pijakan-pijakan baru dalam merumuskan strategi kerja-kerja kebudayaan.

Baca Juga  Kejati Maluku Periksa Raja Batu Merah dan Empat Saksi Terkait Dugaan Korupsi KUR BRI

Dunia sastra kita kemudian memakai avant gande, tapi tak cukup kuat. Berpindah pada persoalan strukturalisme dan tak cukup memadai, lantar berorientasi ke sastra di Amerika Latin. Sastrawan kita pun getol dengan realisme magis yang dalam banyak hal justru dihasilkan di negara-negara sosialis dan komunis. Sastrawan kita gemar mengkampanyekan hal-hal yang hanya ditangkap pada tingkat permukaan, dan bangga dengan hal itu karena merasa yakin akan mampu melahirkan kanon dalam sastra yang dapat mensejajarkan sastra nasional dengan sastra dunia. Tak heran jika orang Indonesia seperti Denny JA berkhayal dapat Nobel, dan dia mengkampanyekan khayalannya itu dan mempercayai bahwa itu adalah kenyataan.

No More Posts Available.

No more pages to load.