Dua Hati Yang Terpilih

oleh -14 views
Link Banner

Cerpen Karya: Hamida Rustiana Sofiati

Mentari telah pergi meninggalkan pagi, hanya rembulan yang menghiasi langit kelam malam. Sunyi, sepi namun ku tetap di sini menatap langit dari balik jendela bilik. Lama kutatap rembulan malam namun semakin kutatap semakin kulihat wajah Zakia.

Zakia adalah temanku sekelas saat kuliah, aku sadar beberapa hari ini bahkan bulan dia telah menempati ruang di sisi hatiku sedikit menggeser Nabila. Aku sangat mencintai Nabila karena dia adalah tunanganku namun ku juga tak sanggup menepis bayang Zakia. Entah mengapa hatiku tak mampu menolak senyum manisnya dan penurutnya. Dibanding Nabila, Zakia lebih menurut padaku namun ia tak sepintar Nabila. IP nya per semester selalu di bawahku sedangkan Nabila selalu mendapat 3,70 di setiap semesternya.

Aku ingat, dulu saat SMA, Nabila pernah membuat essay yang setara dengan mahasiswa S2. Apa mungkin kecerdasan Nabila membuatnya ia enggan menurut padaku? Tapi jika ia berpikir seperti itu mengapa ia mau menerima pinanganku? Bukankah sudah kewajiban seorang wanita menurut pada lelaki pilihannya? Apa mungkin ia masih enggan menurut padaku karena aku masih belum menjadi suaminya? Nabila.. Nabila.

Tit, tit.. tit
“Oh.. ada wa” gumamku. Kubuka wa itu. Betapa kaget dan girangnya aku. Wa itu dari Zakia wanita pujaan rahasiaku.
Makalahnya udah selesai kuketik. Besok kamu ke kampus jam berapa? Aku pengen ngobrol banyak sama kamu
Tanpa banyak ragu aku langsung menjawab wa nya
Wau sip. Besok jam 9 ya Ki. D tempat biasanya..
Ok

Baca Juga  Maluku Utara Galakkan Penyuluhan Moderasi Beragama

Panggilannya adalah Zakia namun aku memiliki panggilan sayang ke dia yaitu Kia. Kiaku sayang, tunggu Abang besok di kampus ya. Abang tengah galau berat, bisakah kau membantu mengurangi kegalauan Abang?

“Hai Ki. Udah lama nungguin?” sapaku pada gadis cantik berbaju pink dan berkerudung merah
“Nggak kok Bram, sekitar 15 menit aja” ucapnya sambil tersenyum manis yang entah mengapa senyuman itu membuat mataku enggan berkedip melihatnya
“Oh iya, ngomong-ngomong kemarin kamu tidur jam berapa Ki? Kok jam 9.45 masih wa aku”
“Jam berapa ya? Jam 10 mungkin kemarin itu habis wa kamu aku udah ngantuk berat jadinya nggak lihat jam. Oh iya Bram, aku nggak nggeh sama power point nya. Ajarin ya, please”
“Ok” ucapku.

Perlahan-lahan aku mengajari Zakia dan seperti yang aku katakan tadi ia menuruti apa kataku tanpa banyak protes.
“Oh.. gitu ya caranya pake power point. Bentar-bentar, aku praktek dulu ya biar tambah ngeh. Kamu duduk diam di sini ya Bram. Okey”
“Beres Ki, santai aja kalau sama aku”
“Ini gini.. ini gini. Oke siip”

Baca Juga  PKB Maluku Utara Gelar Sekolah Legislator

Kulihat jari jemarinya yang lembut memegang laptop pink kesayangannya. Jari jemari yang akan sangat menenangkan ketika menyentuh diriku. Anganku melayang jauh ke atas awan, membayangkan seandainya Kia menjadi milikku maka tangan itulah yang akan membelaiku di saat kegundahan menerpaku. Kia.. aku sayang kamu

“Ki, kalau kamu lagi sama aku apa nggak ada yang cemburu?” tanyaku tiba-tiba
“Ada”
“Siapa Ki?” tanyaku tersentak kaget
“Tuh, orang gila. Hahaha”
“Kau nakal ya”
“Bram.. Bram, kamu ini cowok aneh banget. Mana ada cowok yang mau jadi pacar cewek manja dan bodoh model aku gini”
“Tapi kamu lebih penurut daripada tunanganku dan aku suka itu”
“Apa katamu?”
“Maksudku, aku sayang kamu Ki. Maaf”

“Bram, aku juga sayang kok sama kamu. Dari dulu aku tuh pengen punya cowok yang cerdas kayak kamu tapi aku nggak mungkin bisa menggantikan tunangan kamu”
“Ki,”
“Bram, kamu masih sayang sama tunanganmu kan?”
“Aku sangat menyayanginya, Ki”
“Dengar, kalau kamu sayang sama tunanganmu, maka kamu harus menjaga cintamu. Aku mungkin bisa menyayangimu lebih dari tunanganmu tapi kalau kamu milih aku maka kamu akan kehilangan semuanya. Keluargamu, sahabatmu, saudaramu bahkan kedua orangtuamu juga belum tentu mau menerimaku. Tapi, kalau kamu milih tunanganmu maka kamu hanya kehilangan aku aja, Bram”

Baca Juga  Kapolres Bitung: Tidak Ada Ruang Sedikitpun untuk Pelaku Kejahatan Jalanan

“Ki, maafin aku ya. Aku nggak bisa mewujudkan mimpimu”
“Udahlah Bram, aku udah maafin kamu kok. Yang penting, sekarang kamu harus lebih menjaga cintamu, mungkin ini adalah ujian dari Tuhan seberapa besar dan kuatnya cintamu padanya. Aku sayang kamu Bram. Oh iya.. aku harus ke perpus dulu. Aku pergi Bram”
“Iya Ki” ucapku sambil berlinang air mata, melepas bidadari yang telah tersakiti oleh cintaku. Aku hanya meminta maaf untuk rasa sakitmu. Aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukan lelaki yang lebih baik dariku. Amin (**)