Cerpen Karya: Hamida Rustiana Sofiati
Mentari telah pergi meninggalkan pagi, hanya rembulan yang menghiasi langit kelam malam. Sunyi, sepi namun ku tetap di sini menatap langit dari balik jendela bilik. Lama kutatap rembulan malam namun semakin kutatap semakin kulihat wajah Zakia.
Zakia adalah temanku sekelas saat kuliah, aku sadar beberapa hari ini bahkan bulan dia telah menempati ruang di sisi hatiku sedikit menggeser Nabila. Aku sangat mencintai Nabila karena dia adalah tunanganku namun ku juga tak sanggup menepis bayang Zakia. Entah mengapa hatiku tak mampu menolak senyum manisnya dan penurutnya. Dibanding Nabila, Zakia lebih menurut padaku namun ia tak sepintar Nabila. IP nya per semester selalu di bawahku sedangkan Nabila selalu mendapat 3,70 di setiap semesternya.
Aku ingat, dulu saat SMA, Nabila pernah membuat essay yang setara dengan mahasiswa S2. Apa mungkin kecerdasan Nabila membuatnya ia enggan menurut padaku? Tapi jika ia berpikir seperti itu mengapa ia mau menerima pinanganku? Bukankah sudah kewajiban seorang wanita menurut pada lelaki pilihannya? Apa mungkin ia masih enggan menurut padaku karena aku masih belum menjadi suaminya? Nabila.. Nabila.
Tit, tit.. tit
“Oh.. ada wa” gumamku. Kubuka wa itu. Betapa kaget dan girangnya aku. Wa itu dari Zakia wanita pujaan rahasiaku.
Makalahnya udah selesai kuketik. Besok kamu ke kampus jam berapa? Aku pengen ngobrol banyak sama kamu
Tanpa banyak ragu aku langsung menjawab wa nya
Wau sip. Besok jam 9 ya Ki. D tempat biasanya..
Ok




