Panggilannya adalah Zakia namun aku memiliki panggilan sayang ke dia yaitu Kia. Kiaku sayang, tunggu Abang besok di kampus ya. Abang tengah galau berat, bisakah kau membantu mengurangi kegalauan Abang?
“Hai Ki. Udah lama nungguin?” sapaku pada gadis cantik berbaju pink dan berkerudung merah
“Nggak kok Bram, sekitar 15 menit aja” ucapnya sambil tersenyum manis yang entah mengapa senyuman itu membuat mataku enggan berkedip melihatnya
“Oh iya, ngomong-ngomong kemarin kamu tidur jam berapa Ki? Kok jam 9.45 masih wa aku”
“Jam berapa ya? Jam 10 mungkin kemarin itu habis wa kamu aku udah ngantuk berat jadinya nggak lihat jam. Oh iya Bram, aku nggak nggeh sama power point nya. Ajarin ya, please”
“Ok” ucapku.
Perlahan-lahan aku mengajari Zakia dan seperti yang aku katakan tadi ia menuruti apa kataku tanpa banyak protes.
“Oh.. gitu ya caranya pake power point. Bentar-bentar, aku praktek dulu ya biar tambah ngeh. Kamu duduk diam di sini ya Bram. Okey”
“Beres Ki, santai aja kalau sama aku”
“Ini gini.. ini gini. Oke siip”
Kulihat jari jemarinya yang lembut memegang laptop pink kesayangannya. Jari jemari yang akan sangat menenangkan ketika menyentuh diriku. Anganku melayang jauh ke atas awan, membayangkan seandainya Kia menjadi milikku maka tangan itulah yang akan membelaiku di saat kegundahan menerpaku. Kia.. aku sayang kamu





