Pukul Tiga di Natsepa
pukul tiga di natsepa
kusaksikan ombak memutih di dada ibu
memukul perahu ayah yang tabah
ketika pancaroba tiba
sepanjang mata memandang
deburan ombak menggulung butiran pasir
pada lekuk tubuh pantai natsepa
halus pasirnya nasehat ibu
kuingat kembali
kala itu kami menyusun rumah pasir
yang berpondasi canda dan tawa
sembari menunggu ayah pulang
bermandikan asin air laut
juga manis senyumnya penenang kalut
saat ombak menggulung
kenang kembali pulang
saat ombak menepi
tak habis puisi tentang kami, ayah dan pantai
natsepa, 15 juli 2021
=======
Perihal Kita
di kamar
yang dihiasi kedip lampu warna-warni
puisi telah kurangkai sepadat mungkin
seperti janji kita di waktu itu
sebelum berpaling melupakan yang saling
di meja kamar tersaji foto
manis senyummu
seperti genggaman kita
sebelum mengucap kata pisah
di kamar yang dilengkapi dua daun jendela
terpisah tengah satu batang kayu
dua daun pintu yang tak menyatu
seperti itu kita di saat ini setelah
saling melepas bahu
tahoku, 15 juli 2021
=========
Pantai Beraroma Rindu
pagi ini pantai masih beraroma rindu
tentang kita dan ayah
tentang ayah yang perahunya ditarik laut
meninggalkan teluk
dan yang paling lekat dalam ingatan adalah
lambaian tangan kita ketika ayah berangkat
balasan senyuman ketika tali tak lagi mengikat
di dasar samudera pemikat









