Ditambahkan oleh Janib, “Tingkat kesuburan ini dapat dibuktikan dengan jarak daerah tangkapan atau fishing ground oleh nelayan-nelayan Soligi dan Kawasi yang hanya sekitar 3 – 4 mil.”
Hasil penelitian menunjukan bahwa tangkapan nelayan Soligi maupun Kawasi dapat memenuhi permintaan dari Perusahan walaupun tidak pada musim puncak.
Sayangnya pada musim puncak, hasil tangkapan nelayan melimpah sehingga dijual dengan harga yang relatif murah baik pada perusahan maupun pasar lokal. Ini terjadi karena nelayan tidak memiliki sarana pendukung seperti gudang pendingin atau cool storage untuk mempertahankan mutu ikan.
Direktur HSE (Health, Safety & Environment) PT Trimegah Bangun Persada Tbk (PT TBP), Tonny H. Gultom menyatakan bahwa PT TBP melibatkan akademisi independen untuk turut mendukung kajian PT TBP dalam menjaga perairan di sekitar Pulau Obi, termasuk biota di dalamnya.
“Didukung dengan tim khusus pemantau laut, kami secara rutin melakukan pemantauan di laut sekitar wilayah operasional, termasuk dengan memanfaatkan alat ROV (Remotely Operated Vehicle) yakni kamera bawah laut yang mampu bergerak hingga kedalaman 300 meter di bawah permukaan laut,” terang Tonny.
Alat ini bermanfaat dalam perawatan dan pengamatan kondisi bangunan bawah air, seperti pilar dermaga, pipa, serta pemantauan lingkungan bawah laut dan keanekaragaman hayatinya.









