Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta
Hari kesembilan gencatan senjata antara Iran dan Israel AS)—yang sayangnya masih dibayangi tekanan dan kekerasan—kini bisa saja menyeret dunia ke bibir jurang yang lebih dalam. Teheran telah melempar ultimatum: jika pintu Selat Hormuz diblokade AS, maka Bab Al-Mandeb, laut area sekitar Hormuz, akan ditutup oleh Iran.
Jika ini terjadi, kita tidak hanya sedang bicara tentang terhentinya aliran minyak, tetapi tentang lumpuhnya nadi kehidupan di Eropa, India, hingga pelosok Asia. Inilah wajah dunia yang dibangun di atas kerapuhan. Konflik ini bukanlah soal siapa yang memenuhi ambisi, melainkan buah pahit dari arogansi Washington dan Tel Aviv yang terus memaksakan kehendak.
Terkini, meski gencatan senjata disepakati, AS masih saja mengirim 6.000 pasukan ke Timur Tengah. Ini tidak saja sinyal buruk buat perundingan dan diplomasi, tapi mungkin juga potret nyata dari sebuah keputusasaan AS yang dipoles dengan “bedak” militerisme.
Gedung Putih tampaknya belum belajar dari sejarah bahwa Iran bukanlah negeri yang bisa ditaklukkan hanya dengan gertakan serdadu. Memaksa Iran menyerah atas “program” uraniumnya dengan cara mengepung Selat Hormuz hanyalah mimpi di siang bolong yang justru akan “berkobar” ke seluruh kawasan.









