Kavala menjadi simbol bagaimana pemerintahan Erdogan memberangus pihak-pihak yang sudah berusaha mengudetanya.
Berbicara kepada AFP dari selnya pekan lalu, Kavala mengatakan dia merasa dijadikan alat oleh sang presiden untuk menuding kekuatan asing yang berusaha menggoyahkan rezimnya.
Dewan Eropa sudah memeringatkan Turki supaya mematuhi keputusan Pengadilan Eropa untuk HAM 2019, berisi pembebasan Kavala.
Turki diberi tenggat waktu untuk merespons keputusan tersebut saat pertemuan selanjutnya pada 30 November sampai 3 Desember.
Jika gagal memberikan respons positif, maka pengadilan HAM “Benua Biru” akan memproses sidang disiplin untuk Turki.
Merespons hal tersebut, Presiden Parlemen Eropa David Sassoli (23/10/2021) mengatakan pengusiran Dubes Amerika Serikat (AS) dan sembilan negara Barat lainnya oleh Turki adalah tanda “pergeseran otoriter.”
“Pengusiran sepuluh duta besar adalah tanda pergeseran otoriter pemerintah Turki. Kami tidak akan terintimidasi,” tulis Sassoli di Twitter, seperti dilansir Al Arabiya, Minggu (24/10/2021).
(red/kompas.com)




