Memang, usia telah menua di tubuh lelaki itu. Delapan puluh enam tahun adalah usia yang dalam banyak kebudayaan dianggap bonus panjang dari Tuhan. Tubuhnya tampak rapuh dalam beberapa tahun terakhir, langkahnya pelan, suaranya lebih lirih dibanding dekade-dekade sebelumnya.
Namun bagi para pendukungnya, usia lanjut tidak menghapus citra keteguhan yang telah dibangun selama puluhan tahun kepemimpinan.
Sepanjang hidupnya, ia memimpin Iran dalam kondisi yang nyaris permanen dikepung embargo oleh Amerika Serikat.
Sanksi ekonomi bertumpuk seperti lapisan karat pada pintu tua. Perbankan dibatasi, perdagangan dihambat, teknologi disekat, dan akses finansial global dipersempit. Negara yang kaya energi itu dipaksa belajar hidup dengan paru-paru sendiri.
Namun tekanan panjang itu justru melahirkan obsesi kemandirian. Industri militer domestik berkembang pesat. Program nuklir sipil dijadikan simbol kedaulatan teknologi.
Produksi obat, riset sains, hingga manufaktur strategis dipacu dalam semangat berdiri di atas kaki sendiri. Dalam narasi resmi negara, embargo bukan sekadar hukuman, melainkan ujian sejarah untuk membuktikan daya tahan peradaban.
Amerika Serikat, yang dalam retorika revolusi kerap disebut sebagai “setan besar”, menjadi antagonis tetap dalam panggung geopolitik Iran.









