Estafet Sang Marja’ Revolusi

oleh -425 views

Permusuhan itu bukan sekadar konflik kebijakan, melainkan identitas politik yang diwariskan sejak revolusi 1979. Bagi sebagian rakyat Iran, perlawanan terhadap dominasi global dipandang sebagai bagian dari harga diri nasional.

Namun seperti semua tokoh besar dalam sejarah, Khamenei hidup di antara pujian dan kritik, kesetiaan dan keberatan. Ia dipuji sebagai penjaga revolusi dan simbol ketahanan nasional, tetapi juga dikritik atas represi politik dan pembatasan kebebasan sipil.

Ia dilihat sebagai pemimpin yang teguh mempertahankan kedaulatan, sekaligus figur yang mengawasi negara dengan keras. Sejarah jarang memberi ruang bagi tokoh yang sepenuhnya hitam atau putih; ia lebih sering menghadirkan warna abu-abu yang pekat.

Kini, setelah ia tiada, Iran memasuki babak baru. Duka berkabung menyatu dengan kesadaran bahwa sejarah tidak pernah berhenti menulis dirinya sendiri.

Generasi baru akan mewarisi negara yang ditempa tekanan, ideologi, dan ketahanan panjang. Mereka akan memutuskan apakah jalan lama diteruskan, diperbaiki, atau diganti dengan arah baru.

Baca Juga  Final Piala Dunia 2026: New York Menanti Lahirnya Raja Baru Sepak Bola Dunia

Di masjid-masjid, doa masih mengalir. Di jalan-jalan, bendera masih setengah tiang. Di rumah-rumah, televisi menyiarkan potongan pidato lama yang kini terdengar seperti wasiat sejarah.

No More Posts Available.

No more pages to load.