Porostimur.com, Jakarta – Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengatakan, banyak sekali yang rusak dalam kehidupan ini, dan tidak ada perbaikannya, artinya kerusakannya berlanjut.
Kata Fahri Hamzah, tentu dalam pengalaman sebuah negara yang demokrasi, kerusakan itu efektifnya kalau pemimpinnya diganti.
Karena kalau dalam kerajaan, kita menunggu perbaikan – perbaikan kerajaan itu sampai rajanya mangkat, itu kan menunggu darah berhenti disatu generasi atau seorang pemimpin, karena akan berpindah kedarah lain, kalau dalam militerisme kita menunggu kudeta, atau dalam otoritarianisme lain kita menunggu gerakan masa, tegas Fahri Hamzah.
Menurut Fahri Hamzah, dalam demokratis ini, kita bisa juga nunggu gerakan mahasiswa tetapi kan ada yang terjadwal, dan sebisa mungkin jadwal itu kita dukung, karena itu bagian dari tradisi masyarakat demokratis yaitu pemilu.
Ditegaskan Fahri Hamzah, pemilu itulah harapan kita, yang diharapkan nanti akan memperbaiki keadaan, karena yang sekarang sudah kadung diganti, kita mau berharap kepada siapa, kan susah, kata Fahri Hamzah.
“Suara – suara oposisi seperti yang disampaikan media dan kawan kawan yang lain tidak di “welcome”, bahkan tidak ada pembelaanya, bahkan elit secara sadar atau tidak, membiarkan bahwa pembungkaman oposisi dan yang berbeda dimasyarakat itu sebagai sesuatu yang lumrah”, papar Hamri Hamzah.




