Jadi jadwal kita, harapan kita ya cuma dipemilu untuk perbaikan, makanya kalau pemilu yang sisa dua tahun lagi, atau kira kira dua puluh bulan lagi, kalau itu tidak kita selamatkan, rusaklah kita semuanya.
Karena sudah jelasnya rusaknya, yaitu terutama ada tiga level kerusakan.
Fahri Hamzah memaparkan, level kerusakan yang pertama adalah kerusakan naratif, krisis narasi, kita kayanya sebagai bangsa itu mau megang apa yang enak dan unggul, agung.
Pancasila dilakukan direintepretasi, dikontradiksikan. Lembaga baru dilahirkan, seperti BPIP untuk merecoki pemahaman umum tentang Pancasila.
Sila Ketuhanan dianggap sebagai awal dari fundamentalisme agama, dianggap memberikan angin sorga kekolotan, kadal gurun dan istilah – istilah lama yang dulu muncul, sebelum kita menjadi bangsa seperti ini, kembali muncul lagi.
Kemudian level kerusakan yang kedua, cara kerja negara krisis juga, legislatif tidak tahu fungsinya, saban hari bagi bansos, bagi – bagi sembako.
Padahal kerja legislatif itu oposisi terhadap eksekutif, melawan eksekutif. Karena dia (read: legilslatif) tidak bisa ditembus oleh peluru eksekutif.
“Oleh karena itu, kita memberikan hak imun, karena dia tidak bisa/boleh ditembus, harus ada yang begitu direpublik ini”




