Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan agar kita tidak mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan, serta tidak menyembunyikan kebenaran secara sengaja:
“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42).
Namun realitas hari ini menyajikan banyak contoh bagaimana kebenaran kerap dikaburkan secara sistematis. Misalnya, dalam dunia informasi dan media, tidak semua berita hadir untuk memberi pencerahan. Ada kalanya fakta disusun secara selektif untuk membentuk persepsi tertentu. Sebuah peristiwa yang sama bisa diberitakan dalam dua versi berbeda tergantung sudut kepentingan yang mendasarinya. Bahkan angka-angka statistik pun bisa dibingkai sedemikian rupa agar tampak meyakinkan, padahal konteks dan kejujuran narasi tidak selalu utuh.
Dalam bidang pendidikan, terkadang nilai akademik lebih diprioritaskan daripada kejujuran intelektual. Laporan disusun, presentasi disiapkan, namun esensi keilmuan digantikan oleh impresi sesaat. Di ruang-ruang formal, kadang suara yang paling benar bukan yang paling didengar, tetapi yang paling “aman” untuk diterima. Maka lahirlah budaya basa-basi yang menyenangkan telinga, namun jauh dari nurani. Semua ini bukan kesalahan satu orang atau satu pihak, tetapi cerminan betapa sistem bisa ikut memelihara kebohongan ketika kejujuran tidak lagi dihargai.









