Oleh: Payamta, Pengamat Masalah Sosial Ekonomi dan Pendidikan UNS
Di panggung utama, para penonton bersorak bukan untuk yang jujur, tapi untuk siapa yang paling pandai bersilat lidah. Aneh bin ajaib, kejujuran kini dianggap barang antik—langka, mahal, dan sayangnya tak lagi diminati pasar. Namun jangan khawatir, semua ini dianggap biasa saja, karena dalam festival ini, semakin absurd realita, semakin tinggi nilai hiburnya. Maka mari kita duduk manis, tepuk tangan, dan renungkan dalam diam: apakah kita sedang menonton pertunjukan… atau sebenarnya sedang menjadi bagian darinya?
Fitnah yang Membutakan Hati
Akhir zaman bukanlah sekadar tema dalam ceramah atau bahan bacaan klasik. Ia telah menjelma nyata dalam kehidupan kita saat ini. Dunia mengalami percepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi informasi berkembang pesat, namun dalam kecepatan itulah batas antara kebenaran dan kebohongan semakin sulit dibedakan. Era ini disebut era disrupsi—sebuah zaman ketika tatanan lama diguncang dan digantikan oleh hal-hal baru yang tak selalu lebih baik. Dalam pusaran perubahan inilah fitnah berkembang subur: kebohongan dibungkus kemasan yang manis, disebarluaskan dengan algoritma, dan diterima luas tanpa verifikasi.









