Fenomena ini pada umumnya dilakukan di depan umum untuk memberi isyarat kepada orang lain dalam menyampaikan status tertentu. Dengan adanya media sosial, fenomena ini makin sering muncul.
Contohnya saja para influencer yang memamerkan barang branded miliknya dan diunggah di media sosial. Meski begitu, fenomena ini tak jarang justru dimanfaatkan sebagai alat marketing perusahaan.
2. Perilaku flexing
Namun, pandangan lainnya mengatakan kalau flexing banyak digunakan untuk memamerkan kekayaan yang sebenarnya tidak dimiliki. Mereka menganggap perilaku flexing adalah kepalsuan dan memaksakan diri supaya diterima oleh pergaulan.
Sebab, orang kaya sungguhan biasanya tidak ingin menjadi pusat perhatian. Seperti dalam pepatah poverty screams, but wealth whispers yang maknanya kemiskinan menjerit, kekayaan berbisik.
Semakin kaya seseorang, mereka biasanya justru ingin memiliki privasi dan tidak ingin menjadi pusat perhatian. Sedangkan flexing kini justru menjadi strategi marketing untuk membuat audience percaya.
3. Penyebab flexing
Tindakan pamer ini bisa terjadi karena beberapa faktor berikut ini.
1. Mencari perhatian
Penyebab terjadinya perilaku flexing yang pertama adalah untuk mencari perhatian. Perhatian yang ingin mereka dapatkan bisa jadi ke orang-orang tertentu maupun perhatian publik secara menyeluruh. Maka dari itu, mereka melakukan apa saja untuk membuat dirinya menjadi perhatian, salah satunya dengan flexing memamerkan kepunyaannya.









