Foucault dan Bahasa Kekuasaan

oleh -6 Dilihat

Barangkali di sinilah peringatan Foucault tetap relevan hingga hari ini. Kekuasaan tidak selalu membungkam kritik melalui penjara atau sensor. Kadang ia cukup bekerja melalui bahasa. Sebuah label yang lahir dari pusat kekuasaan dapat menggeser percakapan publik dari substansi menuju stigma. Dan ketika itu terjadi, demokrasi sesungguhnya sedang kehilangan salah satu napas terpentingnya: kebebasan untuk mengkritik tanpa terlebih dahulu dicurigai.

Dan yang menarik, Foucault tidak memandang bahasa sebagai sesuatu yang pasif. Bahasa bukan sekadar cermin kenyataan, melainkan juga pembentuk kenyataan. Ketika kekuasaan memberi nama kepada seseorang atau sekelompok orang, sesungguhnya ia sedang berusaha membangun cara pandang tertentu di benak publik. Sebuah label tidak hanya menjelaskan; ia juga mengarahkan penilaian.

Baca Juga  Polda Maluku Olah TKP Konflik Lisabata-Patahuwe

Itulah sebabnya pelabelan hampir selalu menjadi bagian dari sejarah politik. Hampir setiap rezim memiliki kosakatanya sendiri untuk menyebut mereka yang berbeda pandangan. Ada yang disebut subversif, anti-revolusi, antek asing, anti-nasional, ekstrem kiri atau kanan, radikal, atau sebutan lain yang berubah mengikuti ruang dan waktu. Kosakatanya boleh berganti, tetapi mekanismenya tetap sama: menggeser perhatian dari substansi kritik menuju identitas pengkritik.

No More Posts Available.

No more pages to load.