Gaya Fasis dalam Demokrasi yang Melemah

oleh -15 views

Bahaya terbesar dari kemerosotan demokrasi bukan semata-mata lahirnya korban represi. Ancaman yang jauh lebih serius adalah ketika masyarakat secara perlahan menerima praktik-praktik otoritarian sebagai sesuatu yang wajar. Kita tanpa sadar berubah menjadi bagian dari sistem yang dahulu kita kritik.

Sukidi (2026), dengan mengutip Joseph Goebbels, menulis, “Demokrasi memberi musuh-musuhnya sarana yang justru digunakan untuk menghancurkannya. Kehancuran demokrasi menandai kemenangan fasisme.” Kutipan tersebut mengingatkan bahwa demokrasi dapat dirusak dari dalam, ketika mekanisme demokratis dipakai untuk melemahkan nilai-nilai demokrasi itu sendiri.

Sejumlah studi tentang politik modern menunjukkan bahwa kecenderungan fasis tidak hanya tampak dalam propaganda anti-kebenaran, tetapi juga dalam upaya sistematis membatasi ruang kebebasan sipil, mempersempit ruang oposisi, serta melemahkan lembaga-lembaga yang berfungsi mengawasi kekuasaan.

Baca Juga  Dosen Psikologi Unkhair Edukasi Siswa SMPN 4 Ternate Atasi FoMO Lewat Mindfulness

Fenomena itu semakin relevan dalam era post-truth, ketika fakta sering kali kalah oleh persepsi, dan emosi lebih mudah memobilisasi massa daripada argumentasi yang rasional. Dalam situasi seperti itu, kekuasaan konservatif yang terpusat cenderung memperoleh ruang yang lebih luas dibandingkan kedaulatan publik.

No More Posts Available.

No more pages to load.