Gaya Fasis dalam Demokrasi yang Melemah

oleh -26 views

Friedrich Nietzsche pernah mengingatkan bahwa “binatang buas itu belum mati”. Ia terus hidup dalam berbagai bentuk baru setiap kali manusia kehilangan keberanian berpikir dan memilih jalan pragmatis. Dalam konteks politik, peringatan itu terasa relevan. Fasisme tidak selalu lahir melalui kudeta atau revolusi. Ia dapat tumbuh perlahan melalui kompromi terhadap ketidakadilan dan pembiaran terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Bagi saya, fasisme menyerupai seekor celeng yang mengobrak-abrik ladang demokrasi. Ia memangsa kebenaran sebagai fondasi epistemik kehidupan publik. Ia merusak meritokrasi, menyingkirkan kompetensi, dan menggantikannya dengan loyalitas. Yang dihargai bukan lagi kapasitas, melainkan kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Fasisme juga melahirkan sentralisasi kekuasaan, militerisasi ruang sipil, serta anti-intelektualisme. Kampus, organisasi masyarakat, pers, dan ruang publik yang semestinya menjadi arena pertukaran gagasan justru dipersempit oleh budaya anti-kritik. Negara, yang semestinya menjadi pelindung kebebasan warga, perlahan berubah menjadi instrumen yang menopang lahirnya praktik-praktik otoritarian.

Baca Juga  6 Alasan Hubungan Selalu Gagal Menurut Psikologi

Daya jelajah fasisme sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar represi politik. Sukidi, dengan merujuk berbagai pemikir politik modern, menjelaskan bahwa kebebasan sipil dibungkam melalui intimidasi, tekanan, dan rasa takut. Propaganda menggantikan argumentasi rasional. Ketakutan menjadi alat mobilisasi politik yang paling efektif. Ketika rasa takut menguasai ruang publik, demokrasi kehilangan kemampuan untuk berdialog secara sehat.

No More Posts Available.

No more pages to load.