Porostimur.com, Ambon – Pencemaran merkuri dan sianida akibat aktivitas tambang emas di Gunung Botak, Pulau Buru, masih menghantui masyarakat hingga kini. Limbah beracun dari proses pengolahan emas rakyat terbawa ke lahan pertanian, sumber air, bahkan Teluk Kayeli, sehingga memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan lingkungan.
Teknologi Ramah Lingkungan
Sebagai jawaban atas keresahan tersebut, kini hadir Gold Dressing Technology (GDT), metode pengolahan emas tanpa menggunakan merkuri maupun sianida.
Teknologi ini bekerja dengan sistem pemisahan berbasis gravitasi dan flotasi, di mana partikel emas dipisahkan dari mineral menggunakan air dan bahan pendukung yang tidak beracun.
Hasil uji laboratorium menunjukkan teknologi ini aman. Akademi Kimia Analisis (Bogor) menemukan kandungan merkuri hanya 0,0022 mg/L dan sianida <0,005 mg/L, jauh di bawah ambang batas. Sementara itu, pengujian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan metode ICP-OES bahkan tidak mendeteksi merkuri dalam sampel GDT.
“Hasil uji tersebut membuktikan bahwa GDT dapat menjadi alternatif ramah lingkungan untuk penambangan emas sekaligus menjawab keresahan masyarakat,” demikian ringkasan hasil pengujian yang diterima Porostimur, Minggu (7/9/2025).




