Kelemahan itu pun boleh jadi telah digunakan oleh kelompok tertentu sebelum Pilpres tempo hari, untuk memaksa Airlangga melabuhkan dukungan kepada Prabowo – Gibran.
Untuk apa hal itu harus dilakukan kelompok ini? Jawabannya adalah untuk tetap eksis di arena elite politik di satu sisi dan agar tidak dipandang sebelah mata oleh kubu presiden terpilih di sisi lain.
Sehingga kekuatan lama yang terjangkit “post power syndrome” ini haruslah memiliki kekuatan dan otot politik yang riil atau nyata, tidak sekadar nostalgia semata sebagai mantan penguasa dan mantan pendukung penguasa.
Nah, di dalam arena politik demokratis, kekuatan riil tersebut tentu harus berupa partai politik, tepatnya partai politik besar. Dalam konteks inilah mengapa pohon beringin dianggap sebagai tempat bermigrasi yang paling tepat bagi kelompok post power syndrome ini.
Dan lagi-lagi, ini adalah pola biasa yang hampir selalu terjadi di Partai Beringin sejak Reformasi.
Goyangan di beringin masih bisa dimaknai dalam logika yang sama, tapi dalam bentuk dan penampakan berbeda.
Pengunduran diri Airlangga adalah upaya stabilisasi politik Partai beringin dalam rangka menyesuaikan platform dan fatsun politik Partai dengan kekuasaan yang baru.











