Gubernur Maluku Harus Mendukung Pengembangan Sentra Industri Rumput Laut di Kabupaten Maluku Tenggara

oleh -132 views
Link Banner

Oleh: Bertolameus Mayabubun, Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Ambon, Tokoh Pemuda Kepulauan Kei

Maluku merupakan salah satu provinsi yang memiliki sumber daya alam begitu melimpah ruah dari masa ke masa, namun sampai hari ini menurut presentase Badan Pusat Statistik Nasional, masih dikategorikan sebagai salah satu Provinsi termiskin di Indonesia, kendati demikian ketika adanya perhatiaan yang baik dari pada masyarakat maupun Pemerintah maka dengan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada, pastinya akan meningkatkan stabilitas perekonomian dan akan mengurangi tinggkat kemiskinan tersebut.

Secara umum faktor penyebab kemiskinan di suatu daerah beragam karena banyak hal mempengaruhi seperti tingkat pendidikan yang masih rendah, terbatasnya lapangan pekerjaan dan adanya sifat malas dalam bekerja.

Landasan atau pijakan kedaulatan rakyat Maluku secara yuridis konstitusional dalam menguasai kekayaan alam diatur dalam amanat UUD 1945 pasal 33 ayat (3), menyatakaan bahwa; bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Komoditas rumput laut yang menjadi fokus pengembangan perekonomian di Kabupaten Maluku Tenggara saat ini harus menjadi perhatian serius dari pihak Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi.

Baca Juga  KPK Telisik Tersangka Lain Kasus Suap Alfred Hongarta

Sebelumnya patut diapresiasi upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara dibawah kepemimpinan Bupati Maluku Tenggara, Thaher Hanubun, karena telah berupaya dalam pemanfaatan sumberdaya rumput laut yang ada.

Pengelolaan rumput laut yang sudah sejak lama dilakakuan oleh masyarakat kabupaten Maluku Tenggara dengan metode long line menuai keresahan karena merasa dirugikan terkait dengan harga yang tidak menentu, maka dengan adanya program pembentukan kampung rumput laut (Seaweed Estatte) barang tentu harga penen rumput laut akan maksimal.

Sebagai representasi pemuda asal Kabupaten Maluku Tenggara tepatnya Desa Letvuan Kecamatan Hoat Sorbay yang kini menempu pendidikan di Universitas Pattimura Ambon dari hasil budidaya rumput laut dan banyak pihak merasa sangat penting untuk pengembangan komoditas rumput laut, bila mana dalam konteks pendidikan, sebelumnya di Maluku Tenggara khususnya di Desa Letvuan dan beberapa Desa budidya itu sendiri pengelolaan rumput laut menjadi sumber hidup masyarakat dan sumber pendapatan prioritas dalam hal anak cucu dapat mengenyam bangku pendidikan.

Baca Juga  Murad Bakudapa SKK Migas Bahas Blok Masela

Bila kembali menengok masa lalu, jenjang pendidikan masyarakat ditentukan oleh status sosial keluarga, pasalnya hanya orang tua atau keluarga yang berlatar belakang sebagai PNS atau TNI dan POLRI saja yang mampu membawa anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi dan untuk mayoritas anak-anak petani lebih dominan hanya sebatas jenjang SMA lantaran taraf perekonomian yang tidak mendukung.

Oleh karenanya itu adengan adanya komoditas rumput laut maka orang tua dengan background petani rumput laut juga mampu menghantar anaknya hingga ke gerbang perguruan tinggi, baik di dalam daerah sampai keluar daerah.

Sehubungan dengan hal di atas dapat dipastikan pula bahwa ketika adanya perhatian serius dan dukungan penuh dari pemerintah daerah provinsi dalam hal ini Gubernur Maluku terhadap Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara dalam memperjuangakan pengelolaan dan pengembangan potensi rumput laut melalui industrialisasi maka sudah barang tentu petani dengan sumber pendapatan dari hasil rumput laut ini juga dapat sejahtera dari berbagai dimensi kehidupan baik dari sisi budaya, ekonomi, sosial dan pendidikan.

Baca Juga  Basarnas Berhasil Selamatkan Kapal Nelayan di Perairan Halsel

Bahkan dapat membuka ruang pemberdayaan masyarakat dalam mengurangi tingkat pengangguran hingga meningkatan sumber daya manusia.

Sesuai dengan data faktual Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bahwa luas lahan potensial rumput laut seluas 8.662,23 hektar, jumlah budidaya setiap tahun mengalami penambahan dari 1.641 orang pada 2018, menjadi 2.026 orang pada 2020. Berdasarkan peninjauan di beberapa lokasi diantaranya Teluk Hoat Sorbay, Pulau Naei ,Hoat, Warbal, Sathean, Uf dan hasil survey Kementrian Koordinasi bidang kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) menilai bahwa lahan budidaya di wilayah laut kabupaten Maluku Tenggara memenuhi kriteria sebagai sentra produksi

Oleh karena itu maka pemerintah provinsi dalam hal ini Gubernur Maluku harus mem berikan dukungan penuh terhadapap program pembentukan kampong rumput laut di Kabupaten Maluku Tenggara karena melalui pembentukan “Kampung Rumput Laut” ini bukan saja meningkatkan stabilitas ekonomi masyarakat Maluku Tenggara namun juga akan memberikan dampak besar bagi pengembanagan Provinsi Maluku yang dapat mengurangi tingkat kemiskin yang ada. (*)